Google
 
TIPS MEMBOBOL SALURAN
Jumat, 2008 Juli 04
Membobol? Ini samasekali bukan sedang berbicara mengenai membobol DDOS, atau sekedar deface. Ini literal berbicara tentang membobol saluran. Lebih tepatnya, saluran air yang mampet. Pertama saya gunakan sebotol penghambat saluran pipa yang harganya lumayan mahal. Namun hasilnya, nol besar. Kedua, saya guyur dengan se ember air panas, namun masih tetap nol besar. Dan yang ketiga, seorang tetangga memberikan tips untuk mengguyurnya dengan air panas yang dicampur satu ons soda api, lalu setelah itu menutup rapat-rapat lubang saluran airnya. Hasilnya? Ces pleng tuh. Modalnya hanya goceng untuk satu ons soda api, dan air panas.
Tiba-tiba saya berfikir soal mengatasi otak dan hati manusia yang sering tersumbat. Terkadang, yang beginian bikin lelah, makan ati, bahkan sampai membuat stress. Andaikan boleh menuangkan soda api dan air panas tersebut di atas kepala mereka.

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:09 | Permalink 0 comments
KEGELAPAN, DAN SAHABAT
Minggu, 2008 Juni 15
Cuaca mendung, dan kemudian rintik-rintik air mulai membasahi bumi. Saya terdiam dalam kesendirian. Menatap ujung yang buram oleh rintik-rintik dan gelapnya bumi. Tak sadarkan diri, sudah hampir setengah jam berdiri dalam teduhnya atap reot, kumuh dan sedikit bau. Tak peduli, asalkan tak terkena rintik hujan yang bisa membuat pusing kepala kemudian.

"Yang aus, yang aus, yang aus" teriak pedagang minuman, yang pastinya bukan waralabanya hard rock cafe.

"Minum boss?", tanya sang penjual minuman kepada saya dengan sedikit tersenyum.

"Nggak mas, ini banyak air hujan", jawab saya tersenyum bercampur jengkel.

Sejenak saya berfikir, sambil mulai merasa melankolis mengingat banyak hal, dan kemudian bertanya dalam hati, demikian: "dalam suasana rintik-rintik, kegelapan, dan perlindungan rumah reot, kumuh dan sedikit bau seperti ini, masih saja sebuah kepentingan yang menyapa. Jika saja sang si mas itu tak sedang berdagang, apakah ia masih menyapa saya?".
Entahlah, dalam kesendirian dan kegelapan, kita memang sering bertanya akan banyak hal". Hampir satu jam sudah, dan saya mulai terbiasa dengan suasana ini. Sayangnya, ada sesuatu yang tak bisa dibodohi, yaitu perasaan. Entah apa yang bergejolak dalam hati, seperti diam tertunduk, namun ingin menghantam, menghujam sesuatu.
Tertunduk saya, dan hanya bisa menatap tanah yang kotor dalam kesendirian. Ingin rasanya menembus rintik-rintik hujan dan kegelapan, namun tetap saja tak saya lakukan. Entahlah, kegelapan seakan membuatku ciut.

Tiba-tiba ponsel berdering, dan suara yang khas terdengar. Ponsel ditutup, dan tak berapa lama dibandingkan lamanya saya berdiri di tempat itu, akhirnya sebuah mobil yang tak asing hadir di kejauhan. Seseorang turun, membawakan payung, melemparkan senyum, dan menjemput saya untuk keluar dari kegelapan. Sahabat memang ada, walau dalam kegelapan sekalipun. Terima kasih sahabat.

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 23:21 | Permalink 0 comments
BAIKvsBENAR
Senin, 2008 April 07
Masalah terbesar dunia tidak terletak pada minimnya orang baik, melainkan minimnya orang benar. Karena yang baik belum tentu benar. Contohnya: kita bisa dianggap baik dengan aktif dalam kegiatan kerohanian. Kita bisa dianggap baik dengan tidak gonta-ganti pacar. Kita bisa dianggap baik dengan jadi orang rumahan yang jarang keluyuran. Kita bisa dianggap baik dengan bertutur kata yang nampak ramah karena kerapkali disertai cengangas-cengenges. Kita bisa dianggap baik dengan jalinan pertemanan yang itu-itu saja. dan kita bisa dianggap baik dengan apapun yang baik. Sah-sah saja, itu baik adanya. Namun untuk mengatakannya benar, hanya bisa dibuktikan dengan buahnya.
Bisa saja, aktif dalam kegiatan kerohanian bukan karena sedang mencari Tuhan, tapi mencari tender. Bisa saja, tutur kata yang ramah yang kerapkali diiringi cengangas-cengenges karena tak ada isi dikepalanya untuk bicara sesuatu yang serius (biasanya tipikal ini hebat mengkritik orang yg berbicara didepan. Padahal, kalau saja dirinya mau berbicara di depan, maka selain cetek, pasti juga terkesan blepetan/o'on/dungu). Bisa saja, tidak gonta-ganti pacar karena mencintai sesama jenis. Bisa saja, pertemanan dengan orang-orang yang itu-itu saja karena tak memiliki kemampuan bersosialisasi (semua manusia diluar zonanya dianggap zero. bnd. pecandu; anggota aliran sesat; ekstrimis dan sejenisnya). Bisa saja, menjadi anak rumahan karena takut tak bisa dimengerti seperti saat di rumah sebagai "anak mami". Yang dikatakan bisa saja, berarti tak mutlak toh. Kalau tak merasa, ya jangan kebakaran jenggot seperti banci dong.
Tulisan inipun bukan menyarankan untuk tak aktif dalam kegiatan kerohanian, menyarankan menjadi keluyuran freak, menyarankan anti ramah, atau menyarankan menjadi "ABC" (Aligator Buaya Crocodille) yang hobi gonta-ganti pacar dan sebagainya. Tapi, ini lebih kepada ajakan berkontemplasi, agar saya dan siapa saja yang membaca ini memiliki perspektif, bahwa menjadi benar jauh lebih penting, daripada sebatas baik.
Mari memulainya dengan bertanya, "adakah buah dari berbagai kebaikan yang berlangsung selama ini? Atau sedang merasa berputar-putar, layaknya mengitari tol Priok, Cawang, Slipi, lalu kembali ke Priok lagi? Dimana semuanya mulus, dalam nikmatnya asoy geboy dentuman full SPL, suspensi yang yahud dan AC yang dingin, namun nyatanya hanyalah berputar-putar disitu-situ saja? Semoga tak lelah ya.
Halalkanlah segala cara, asalkan tak haram dihadapan Tuhan. Daripada berlagak baik, namun nyatanya haram. Karena itu layaknya kuburan yang berlabur putih, namun nyatanya hanyalah seonggok bangke busuk.

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 19:04 | Permalink 2 comments
PEMENANG TAK SELALU MENANG
Senin, 2008 Maret 31
Dengan memutarbalikkan fakta, Anda dapat menang. Dengan menghalalkan segala cara, Anda dapat menang. Dengan membunuh, Anda dapat menang. Dan dengan cengangas-cengenges layaknya orang menang, Anda dapat menang walau sebenarnya menyedihkan.
Ekspresikan semua, hingga hasrat hedonistik Anda terpuaskan, demi menang. Pertanyaannya adalah, apakah selalu menang membuat Anda menjadi pemenang?
Tak ada manusia yang tak pernah gagal. Demikian halnya dengan pemenang, yang tak luput dari gagal. Namun gagal tak identik dengan keterpurukan, jatuh, dan sejenisnya yang menunjukkan Anda ada di posisi "titik nol". Sadarkah, nyatanya memaksakan diri untuk selalu menang pun dapat dikategorikan sebagai gagal? Mari mencermati kisah si Abakadabra.
Suatu kali, si Abakadabra merasa sakit hati, jengkel, dendam, terluka, tertolak, karena kekasih dan semua orang di belakang kekasihnya menolak cintanya. Mulai saat itu, si Abakadabra mulai mempersolek dirinya demi menang, dimana dirinya ingin membuktikan ia tak jelek. Tak sampai disitu, si Abakadabra pun mulai memancangkan pilar-pilar kerajaannya demi menang, dimana dirinya ingin membuktikan ia tak melarat. Bahkan si Abakadabra pun semakin tak merasa penting dengan mimpi, misi, visi, dan tujuan hidupnya. Semuanya sebenarnya dipahaminya, namun dikuburkannya, demi menang.
Rasa sakit, dukacita dan tertolak dalam dirinya ditutupinya dengan sejuta keceriaan, kegagahan, kekuasaan dan semua yang dapat mengekspresikan menang. Apapun yang tak membuatnya menang tak digubrisnya, apalagi didukukungnya.
Disanalah 1001 alasan kerapkali diluncurkannya, saat dirinya tak mendapatkan status menang. Lain halnya jika menjadi menang digenggamnya, apapun dan berapapun harganya, maka si Abakadabra siap melakukannya.
Dari sekian jauh penyimpangan yang diambilnya, si Abakadabra tak pernah bisa menyadarinya. Jelaslah penyebabnya, karena semua di sekelilingnya adalah yang hanya mau menyanjungnya sebagai si menang yang tak terkalahkan. Kepentingan yang berputar di sekelilingnya terasa mandul untuk menyatakan yang benar.
Akhirnya terciptalah falsafah hidup, menang itu segalanya. Tak peduli walau tak benar.
Menang, menang dan menang! Sampai kapan? Bukankah semua penyimpangan yang terlalu jauh ini hanya bersumber pada penolakan kekasih dan orang-orang di belakang kekasihnya? Kalau saja si Abakadabra mau sedikit belajar, bahwa penolakan itu terjadi bukan karena si Abakadabra kurang menang, namun kurang dewasa karena tak mau mengalah. Layaknya anak ingusan. Benarkah demikian dengan si Abakadabra? Bukankah sikap demi sikap si Abakadabra membuktikannya?
Satu hal yang perlu diketahui oleh si Abakadabra adalah, bahwa menjadi pemenang tak harus selalu menang. Mungkin itu sebabnya pepatah itu mengatakan: "Mengalah untuk menang".
Mari berkontemplasi dan bertanya: "sayakah si Abakadabra itu"? Jika berdikari dan bersedia diproses sering membawa Anda pada berbagai pengalaman kalah, berbahagialah. Karena pemenang tak harus selalu menang. Kegagalan orang-orang yang berdikari dan mau diproses itu jauh lebih potensial untuk menjadi pemenang, dibandingkan terus cengangas-cengenges ala si Abakadabra, yang nyatanya hanya terus menerus menetek dari susu ibu dan ayahnya. memang ayah menyusui ya? Kejam sekali bukan?
Luar biasa sekali memang, karena berbagai gejolak yang terjadi di dunia ini, nyatanya bisa saja berasal dari kelihaian si Abakadabra memainkan perannya yang rapih demi untuk pembuktian tak terkalahkan.
Marahkah Anda membaca ini? Berencana men-deface, menyerang DDOS web sederhana ini, atau merencanakan membunuh saya karena merasa kalah? Belajarlah untuk kalah, dan itu dimulai dengan berdiri diatas kaki sendiri, untuk membuktikan kedewasaan. Sudah dewasa kok masih menetek? Mungkin itu yang menyebabkan penolakan kekasihmu itu. Ayo berdikari!

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 15:08 | Permalink 3 comments
45, 66, 3, 3 1/2, MENUJU GELOMBANG KE-4
Jumat, 2008 Maret 14
"45, 66, 3, 3 1/2 MENUJU GELOMBANG KE-4" berbicara mengenai gelombang Indonesia sebagai Republik Indonesia. Mulai bambu runcing hingga Proklamasi yang menghantar kemerdekaan Indonesia di tahun 45; Mahasiswa pro Soeharto yang menggulingkan bung Karno di tahun 66; Mahasiswa era berjayanya kembali bung Karno yang menggulingkan Soeharto, itulah era reformasi; Reformasi yang identik dengan repotnasi akhirnya mengangkat Gus Dur, dengan pengharapan Indonesia menjadi lebih baik, namun ditengah jalan Gus Dur dilengserkan, hingga menghasilkan berbagai celaan atas aksi yang tak klimaks tersebut. Itulah sebabnya gelombang ini dinamakan gelombang 3 1/2; Bukankah era SBY adalah gelombang keempat? Boleh dikatakan, era SBY belum dianggap sebagai gelombang keempat, namun lebih tepat untuk mengatakannya sebagai usaha membangun pondasi menjelang gelombang keempat. Kenapa demikian?
Penentuan gelombang tidak didirikan atas masa kepemimpinan seorang Presiden, karena nyatanya pak Harto 5 kali lipat berkuasa lebih banyak, sedangkan yang lainnya ada yang tak sampai masa satu periode sekalipun. Penentuan gelombang juga tak bisa didirikan atas hasil yang dicapai seorang Presiden dimasa berkuasanya, karena nyatanya kita kesulitan mengukur pertumbuhan kwalitas yang dihasilkan Presiden melalui laporan tahunannya dibandingkan realita rakyat yang tetap menderita. Jadi jelaslah, gelombang coba dibuat berdasarkan sesuatu yang fenomenal dan berdampak pada perubahan yang signifikan pada rakyat itu sendiri. Jika demikian halnya, akankah gelombang keempat dinyatakan saat revolusi bergolak? Kenapa mengacu pada revolusi?
Saat Gus Dur dilengserkan, sebenarnya revolusi bisa saja terjadi. Banyak orang mengatakan Gus Dur kekanak-kanakan karena terus mengungkapkan kekecewaannya pasca pelengseran tersebut. Bahkan dalam suatu acara talk show baru-baru ini, dengan tegas Gus Dur mengatakan bangsa ini penakut. Sontak dada terkejut mendengarnya.
Namun jika dipikirkan dengan waras, kekecewaan serta pernyataan Gus Dur yang mengejutkan tersebut tak layak disebut kekanak-kanakan. Justru lebih cocok jika kita yang waras berdiri tegap dan mengangkat tangan kanan menghormatinya. Kok?
Nyatanya, negara ini memang negara Islam terbesar di dunia, dimana mayoritasnya adalah warga NU. Layaknya warga kerajaan umumnya, warga NU pun menghormati pemimpinnya seperti raja. Andaikan Gus Dur tak membanyol dan menyikapi pelengserannya dengan serius, bukan tak mungkin revolusi terjadi saat itu. Ah, Belanda saja yang bersenapan mesin bisa digulingkan dengan bambu runcing. Jadi, posisi NU yang mayoritas serta bersahabat dengan kalangan agama lain bukan hal yang mustahil untuk menjadi suatu kekuatan besar, walau sekelas bambu runcing. Oleh karenanya, akan lebih bijaksana dan dianggap waras jika kita tak mengatakan Gus Dur kekanak-kanakan. Angkatlah hormat atas banyolannya yang lucu, walau hatinya teriris untuk saya dan Anda.
Jika demikian halnya, kenapa kita tak langsung saja bersepakat untuk mencalonkan Gus Dur di 2009 untuk Indonesia yang lebih baik? Selain Gus Dur tak mau, karena dirinya menghormati keberagaman suara dalam pesta demokrasi 2009, nampaknya Gus Dur pun perlu berfikir keras untuk mencalonkan diri di 2009 demi meminimalisir kemungkinan terjadinya revolusi. Kenapa demikian? Ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan Gus Dur, yaitu:
  1. J.F Clark mengatakan: "A Politician Thinks About The Next Election, A Statesman Thinks About The Next Generation". Gus Dur serta bung Karno memiliki bakat negarawan yang terbukti dalam sejarah ke-presidenan Indonesia. Kalau saja peran negarawan lebih dipilih Gus Dur, pastilah akan lebih mudah memultiplikasi negarawan baru, dibandingkan harus berperang dengan politisi ditengah-tengah bangsa yang telah diindoktrinasi (sadar tak sadar) bahwa politik adalah segala-galanya.
  2. Proyek jangka panjang ala bung Karno dan Gus Dur memang sulit dipahami oleh penggemar obrolan warung kopi, apalagi kalau warung kopinya diisi kepentingan penjahat kerah putih bergaya peduli orang susah. Gus Dur pun memiliki nilai lebih dibandingkan bung Karno. Dimana nilai lebih Gus Dur dibandingkan bung Karno? Setidaknya Gus Dur tak anti Koes Plus, berbusana funky saat di istana dan cukup satu istri. Intinya, walau bung Karno sama hebatnya dengan Gus Dur, namun kesederhanaan Gus Dur tak membuat kita curiga akan adanya uang negara yang tersembunyi. Yang saya katakan curiga, jadi bukan menuduh. Jika demikian, Gus Dur sebagai negarawan yang dimaksud akan lebih punya kesempatan lebih untuk dekat kepada rakyat guna mengimpartasikan proyek jangka panjangnya itu, jika sebagai negarawan.
  3. Layaknya komputer, Gus Dur itu dual core. Sayangnya, negri ini masih memakai motherboard dan procecor untuk Pentium 1I. Kendala pasti ada ketika Gus Dur bukan sebagai presiden, namun menjadi presiden lagi dan dilengserkan lagi karena Pentium 1 tak bisa menerima dual core akan membawa negri ini pada kendala yang lebih besar, dimana kemungkinan revolusi bisa saja terjadi. Bukankah pengalaman pahit kedua tak lagi bisa dibuat banyolan? Seperti Gus Dur pernah katakan: "manusia ada batasnya".
Mungkinkah gelombang keempat dimasuki dengan revolusi? Tentu kita tak mengharapkan itu terjadi, namun bukan berarti juga membungkam Gus Dur untuk tak mengikuti pesta 2009. Seperti Gus Dur mematuhi apa yang "Orang-Orang tua" katakan, nampaknya pendekatan masing-masing kita perlu diarahkan pada pendekatan spiritual (bukan klenik), agar "Orang-orang tua" yang dimaksudkan Gus Dur ditundukkan pada kehendak Tuhan atas negri ini. Kalaupun nyatanya Gus Dur tetap maju, maka seperti halnya Gus Dur menhormati orang lain, nampaknya kita juga perlu menghormati apa yang diyakininya. Dan orang-orang tipikal Wimar Witoelar memang perlu diperbanyak Gus Dur untuk sosialisasi pemikiran dan langkahnya yang dual core itu. Dan kapoklah bagi-bagi kursi.
Mungkin Anda berfikir analisa ini terlalu berlebihan. Coba tanggalkan analisa ala Amerika atau Kairo Anda, dan lihatlah kenyataannya, bahwa ini memang negara Islam terbesar di dunia, dimana NU mayoritasnya. People power ditangan Gus Dur patut diperhitungkan dengan serius.
Gelombang keempat di depan mata, dan tak bijaksana jika hanya menunggu bola menjelang 64 tahun kemerdekaan. Lalu dimulai darimanakah? Dimulai dari saya dan Anda yang memaksimalkan pertumbuhan yang seimbang dalam hal rohani, fisik, mental dan sosial, dimana kepentingan buruk sampai kepentingan sebatas baik diminimalisir demi terciptanya kepentingan benar. Karena kepentingan benarlah substansi untuk pemecahan masalah bangsa ini, dimana mulainya tegaknya supremasi hukum akan membakar eksplorasi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang tertidur.
Kita negara agraris dan maritim, bukan negara politik. Itulah sebabnya negarawan dibutuhkan untuk membawa kita pada gelombang keempat guna mulai menciptakan rumah yang nyaman untuk ditempati.
Saya tuliskan ini saat putra saya berusia tepat 2 tahun. Dengan harapan, kelak ia akan bangga sebagai manusia Indonesia, dimana tanah, air, udara dan manusianya tak tertidur.

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 20:21 | Permalink 3 comments
APALAH ARTI INDAHMU
Selasa, 2008 Maret 11
APALAH ARTI INDAHMU
by. Richard Paulus Sianipar. Februari,29-08


Dua bunga mekar, indah
Waktu membuat satunya layu
Satunya tetap mekar, indah
Waktu membuat satunya, mati
Tergeletak di tanah, membusuk
Satunya tetap mekar, indah
Kala tajam memandang, merasakan
Nyatanya yang mekar indah, palsu
Yang membusuk menjadi pupuk
Memberi hidup bagi lainnya
Apalah arti mekar, indah
Namun palsu
Kehidupan dari kematian
membuat palsumu tak berarti

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:47 | Permalink 2 comments
SADOKISME?!
Siksaan merupakan hal yang menggairahkan bagi sadokisme. Entah apa dan dimana letak kenikmatannya? Sadokisme pasti memiliki kisah di balik itu semua. What do you think?
Apa yang menghantar pada halaman sadokisme tersebut? "Googling" menghantar pada halaman tersebut, dan itu terjadi saat mengetikkan "DIKASIHANI" pada search google. Ada apa dengan "dikasihani"?
Dalam rentang waktu belakangan ini banyak terpampang orang-orang yang gemar dikasihani. Suatu hal yang tidak wajarankah dikasihani? Saat coba merenungkannya lebih dalam, tiba-tiba televisi menyiarkan kisah Ibunda Kiki Fatmala yang nampaknya memelas iba pemirsa. Tak berani saya menentukan siapa yang benar atau siapa yang salah dalam "kasus Kiki dan Ibundanya" itu. Namun sekilas, seperti itulah (kurang lebihnya)"dikasihani" yang dimaksudkan disini.
Tulisan ini tak bermaksud membungkam orang-orang yang memang tertindas. Jika Anda ditindas, Anda berhak bersuara, dan mendapatkan keadilan.
Namun yang sedang dieksplorasi saat ini adalah, kegemaran mengeksploitasi rasa tertindas dengan menghalalkan segala cara. Jadi, yang bersangkutan bisa saja memutar balikkan fakta, berbohong, dan berbagai hal lainnya yang dihalalkan walaupun haram, dan tak peduli, walau orang terdekatnya dikorbankan.
Dan ketika kesan tertindas telah ditangkap oleh publik, yang bersangkutan akan lebih memilih diam membisu. Alasannya jelas bukan karena yang bersangkutan bijaksana, melainkan karena dikasihani publik telah dicapainya.
Layaknya sadokisme, nampaknya golongan "dikasihani" memiliki orientasi yang sama, yaitu: mencapai kesenangan. Satu lagi produk zaman yang semakin hedonistik ini, dimana semuanya berorientasi pada kesenangan.
Merenungkan semuanya itu, pikiran ini tak merasa penting menjawabnya, namun tertuju pada suatu perenungan demikian:
"Seorang ayah yang hebat, bisa jadi karena memiliki istri dan anak-anak yang hebat. Seorang istri yang hebat, bisa jadi karena memiliki suami dan anak-anak yang hebat. Seorang suami yang hebat, bisa jadi karena memiliki istri yang hebat. Seorang istri yang hebat, bisa jadi karena memiliki suami yang hebat. Anak yang hebat, bisa jadi karena memiliki keluarga yang hebat. Saya mengatakannya "bisa jadi", karena faktanya ada juga yang "lonely" tetapi tetap hebat.
Semoga kita akan senang untuk mendukung orang disekitar kita menjadi hebat, dibandingkan mementingkan kesenangan diri sendiri dengan cara minta dikasihani. Dan untuk orang ketiga, kiranya berbesar hati untuk tak mengasihani aksi pemuja "dikasihani".

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:44 | Permalink 0 comments
AKSES MURAH
Akses internet kamu menggunakan apa? Ada yang lebih murah meriah dari 3 dibawah ini nggak?
  1. Rp. 425.000. Solusi untuk RT/RW/Net PC24
  2. Mulai Rp. 99.000/up to 384 Kbs. Sayangnya, masih berdasarkan zona area. see FASNET
  3. Rp. 99.000 Paket 1Gb. STARONE NGORBIT
Ada yang punya info lainnya? Share dong. Semoga informasi kamu menambah onliners bertambah. Thanks in advance!

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:43 | Permalink 1 comments
ADD "FS YANG TERTUTUP"
Saat browsing di friendster, kita seringkali bertemu dengan teman lama. Sayangnya, si kawan "menutup" akses friendsternya. Mau kirim pesan tak bisa, mau "add", juga tak bisa, karena tak tahu "first name, last name, dan alamat e-mailnya". Lalu bagaimana cara "add" si teman itu, tanpa perlu mengetahui "first name, last name dan alamat e-mailnya"? Mudah saja kok:
  1. Sortir nickname yang dipakai teman kamu itu. Lihat bagian kiri atas, dibawah "Home";
  2. Copy nickname tersebut, lalu paste di "search" yang terletak di bagian paling atas. Jangan lupa, pada kolom search, klik "friendster", bukan "web";
  3. Enter atau klik tanda panah disamping kotak "search" untuk mengaktifkan "search";
  4. Setelah jendela baru menampilkan "friendster" teman kamu itu, silahkan klik "add";
  5. Selesai sudah, kawan kamu itu sudah kamu "add".

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:41 | Permalink 1 comments
GURU vs GOOGLE
Seseorang bertanya tentang latar belakang pendidikan, dan dengan cepat saya menjawab: "from University of Google". Setelah mengucapkan itu, beberapa saat kemudian saya merenungkan berbagai disiplin ilmu yang pernah saya jelajahi, lalu coba mengingat semua hal yang pernah dipelajari. Nyatanya, hanya 30% (mungkin) ilmu yang benar-benar saya ingat dari salah satu disiplin ilmu. Kemudian coba membandingkannya dengan disiplin ilmu lainnya, dan prosentasenya memang jauh berbeda. Tak ingin saya meyakiti hati para Pengajar saya di, namun harus diakui, pada disiplin ilmu lainnya saya mewarnai KHS dengan deretan nilai A, sedangkan di salah satu disiplin ilmu, (mungkin)hanya 2, yang A. Ini tak sedang membicarakan bodoh dan pintar, atau membicarakan disiplin ilmu, melainkan terfokus pada betapa pentingnya "learning by doing" dan betapa penting bersahabatnya Guru.
Disiplin ilmu yang saya dereti nilai A memang menawarkan Pengajar yang bersahabat serta silabus hingga realisasi di kelas dan lapangan yang "learning by doing". Itulah yang membuat semangat eksplorasi membara dalam pencarian. Sedangkan disisi lain, pada suatu disiplin ilmu terasa suatu tekanan, dijejali, sebatas diminta menghafal, kesan angker, bahkan pemaksaan "percaya saja" terhadap suatu pencarian.
Hal esensial yang penting dari seorang pengajar adalah terjalinnya suatu hubungan dua arah. Seorang pengajar bisa memiliki 1000% ilmu, namun bisa jadi tak bisa maksimal diserap 1000% persen oleh yang diajarnya. Yang lainnya, seorang seorang Pengajar yang hanya memiliki 100%, namun memiliki hati untuk menjalin suatu hubungan dengan yang diajarnya, memiliki potensi untuk timbulnya semangat eksplorasi untuk disiplin ilmu yang diajarkannya. Oleh karenannya, kemampuan menjejali, memaksa, hingga merasa lebih menguasai memang perlu dikikis. Karena nyatanya, siswa yang datang seringkali datang dengan pengetahuan yang luar biasa. Ada 3 hal yang membuat siswa malas bertanya, yaitu: 1.Merasa sudah paham; 2. Merasa tak paham sama sekali akan yang diajarkan; 3. merasa dieksekusi, dijejali, diindoktrinasi dan sejenisnya.
Ilmu membutuhkan guru, dan guru membutuhkan hati seorang ayah. Layaknya seorang ayah yang penuh kasih dalam membimbing anaknya, maka penting bagi guru memiliki hati seorang ayah, demi terciptanya suatu hubungan. Iulah sebabnya, saya lebih menganggap guru sebagai suatu panggilan, dibandingkan sebatas profesi.
Bersahabatlah, karena google yang hanya sebuah mesin tak bisa sebaik Anda yang dikarunia. hati. Sebagai seorang guru, mungkin Anda berkata: "Saya bersahabat kok". Dan saya bertanya: "berapa banyak murid yang mau menghampiri Anda untuk bertanya soal mata kuliah yang Anda ajarkan, baik di dalam maupun diluar kelas? Maaf, saya tidak sedang berbicara mengenai sebatas berapa murid yang dekat dengan Pengajar, karena mereka bisa saja dekat, namun seringkali lebih kepada "udang dibalik batu".
Semoga google tak lebih nyaman untuk memenuhi pencarian seseorang, karena kita perlu menciptakan generasi yang memiliki hati, bukan generasi mesin.

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:40 | Permalink 3 comments
POLITISI NEGARAWAN
H.M Kuitert mengatakan: "everything is politic, but politic isn't everything". Berbicara mengenai politik, kaitannya erat dengan kepentingan. Dan berbicara kepentingan, manusia mana di dunia ini yang tak memiliki kepentingan? Akui sajalah, entah kepentingan buruk, kepentingan sebatas baik, atau kepentingan benar memang kerapkali beracara dalam derap langkah kita. Seperti band Seriues meneriakkan: "rocker juga manusia...", kepentingan pun bukan hal yang tabu bagi manusia.
Namun, ada yang menarik dari pernyataan J.F Clarke yang mengatakan: "a Politician Thinks About The Next Election, A Statesman Thinks About The Next Generation". Mustahil rasanya, jika seseorang yang dianggap sebagai "Statesman", namun mengatakan tak memiliki kepentingan dalam derap langkahnya. Inplisit,
"Statesman" yang tak memiliki konsep dong? Kok bisa?
Jika Kuitert mengatakan "politic is not everything", dan Clarke mengatakan: "A Statesman Thinks About The Next Generation", maka saya sepakat dengan apa yang Faisal Basri tuliskan untuk saya (teng kyu Bang!): "Janji politisi memang sebatas galah, komitmen negarawan sepanjang jalan, kita butuh banyak politisi-negarawan".
Mengakui adanya kepentingan dalam derap langkah membantu kontemplasi diri untuk meminimalisir kepentingan buruk sampai kepentingan sebatas baik, guna memaksimalkan kepentingan yang benar.
Itulah sebabnya kita perlu mencermati, lalu ikut mengalir dalam konsep sampai aksi yang dibawa oleh seorang politisi menjelang 2009 ini. Harapannya, Politisi bersangkutan mulai menajamkan konsep indahnya sebelum berkuasa, dan secara tak langsung, kita sebagai rakyat biasa akan menyatakan selamat tinggal pada Politisi yang hanya hobi membagikan kaos butut, sembako murahan, jogat-joget masal, dan bualan-bualan dalam sebuah kampanye.
Semoga dengan ini, 2009 nanti akan menghadirkan calon pemimpin, bukan sebatas penguasa. Dan sebagai golongan kasta tertinggi dalam negara ini, kita pun sebagai rakyat seharusnya tak bermental pengemis. Kepada calon Pemimpin yang memiliki konsep, seharusnya kita mengatakan apa yang bisa saya berikan, bukan apa yang bisa saya ambil. Tahu sebabnya? Umumnya, "Statesman" kurang punya banyak dana, namun bersama "Statesman" kita akan berpeluang besar dilibatkan (baca: berpihak pada rakyat) untuk menjadikan Indonesia, bukan sebatas menjadi ular kadut atau naga, namun menjadi "Gatot Kaca" yang tangguh di mata Asia sampai dunia. Sumber daya alam, letak geografis dan sumber daya manusianya mendukung kok. Semoga simbiosis mutualisme terjadi dan menular layaknya virus mematikan, guna meciptakan "win-win solution" dalam situasi dan kondisi kita saat ini, untuk Indonesia yang lebih baik

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:38 | Permalink 0 comments
KATAKAN SEXY YA, JIKA SEXY

KATAKAN SEXY YA, JIKA MEMANG SEXY
oleh.Richard Paulus Sianipar

sexy ya, bukan cantik ya
"kotakmu" kenapa takut mengatakan sexy?
katakan sexy ya, jika memang sexy
tegaklah berekspresi dalam realita kehidupan
selayaknya si kecil yang rela jatuh bangun saat tertatih belajar berjalan
hingga akhirnya berjalan tegak, kemudian bisa berlari kencang
biarkan keberanian berekspresi mewarnai proses
sampai keseimbangan terasa membangun kedewasaan
ini bukan sekedar soal sexy ya,
namun berani mengekspresikan sesuatu
dimana tampilan baik jadi tak sepenting kebenaran dihasil akhir
ekspresikanlah, karena kemunafikan itu kepalsuan
kuduslah, bukan berlagak kudus
sebagaimana kudus itu anugrah yang turun "dari atas"
anugrah tak pernah turun atas kepalsuan
kepalsuan, dimana keberanian kerapkali disembunyikan

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:37 | Permalink 2 comments
GONG XI FAT CHAI
Jika Anda tanya 2 nama orang paling baik kepada saya saat ini, maka dengan cepat akan saya berikan 2 nama orang Cina, namun jika Anda juga bertanya 2 nama orang paling brengsek kepada saya saat ini, maka dengan cepat juga akan saya berikan 2 nama orang Cina.
Sejak kecil, saya memang dibesarkan dalam lingkungan yang tak bisa terlepas dari orang Cina, bahkan tetangga di kiri-kanan-depan-belakang saat inipun orang Cina. Sewaktu kecil, saya tak bisa melupakan nilai-nilai kebaikan, kebenaran serta ketulusan hati om Benny dan keluarga yang sekarang menetap di Holland. Dan belakangan ini, nama om Sugia, Ibu serta seluruh keluarga begitu indah terpatri dalam hati saya, istri dan io, anak kami. Ada makna luar biasa yang tak terkatakan dalam kehidupan orang Cina yang memiliki nilai-nilai hidup, namun juga ada kebobrokan yang hobi menghalalkan segala cara, dari orang Cina yang busuk.
Itu sama halnya kok, dengan orang Batak, orang Ambon, Orang Jawa, orang Sunda, Orang Papua, dan ras lainnya, dimana ada yang busuk, ada yang sebatas baik, ada yang benar, dan ada yang split personality, atau "abu-abu". Lalu, kenapa harus marah, jika mendengar ungkapan cina lo? Atau jangan-jangan, ada Cina yang marah juga pada saya saat ini, karena tak disebut Tionghoa?
Walau tak begitu suka perannya sebagai aktor, namun saya salut pada pernyataan Ferry Salim dalam suatu wawancara yang mengatakan: "...saya biasa saja jika ada orang yang mengatakan Cina lo kepada saya. Pada kenyataannya, saya memang keturunan Cina... Saya menganggap, ucapan seperti itu layaknya orang lain saling mengatakan: "Jawa lo, Batak lo, Ambon lo, etc". Kira-kira, kurang lebihnya demikian isi wawancara tersebut. Analisa yang brilian.
Jika diamati lebih dalam, tingkat ke blo'onan dan kepandaian memang mempengaruhi reaksi seseorang terhadap konflik SARA. Semoga semakin banyak orang yang mau belajar, mau bergaul dan keluar dari "kotak-kotak"nya, serta giat menyatakan eksistensinya dalam negara yang plural ini, sehingga "kotak-kotak" SARA yang diagungkannya tak lagi manjur untuk dipolitisasi oleh politisi gombal. GONG XI FAT CHAI buat yang merayakan! Kalian punya kontribusi luar biasa atas negari ini. Silahkan rendah hati, bukan rendah diri! Kamsia!!

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:36 | Permalink 0 comments
UANG, TUHAN, BERTUHAN?
Seberapa pentingkah uang dalam kehidupan Anda? Kiyosaki mengatakan: "bukan kita yang bekerja untuk uang, namun uang yang bekerja untuk kita". Hebatnya, pernyataan tersebut bukan meredam orang untuk mencari uang, namun justru sebaliknya. Dalam Perjanjian baru dari kitab ke-Kristenan pun dituliskan banyak sekali kejahatan yang terkait dengan uang, bahkan sampai saat ini, sebagai pemegang award negara terkorup dalam berbagai versi, kita pun diperkenalkan dengan istilah UUD, alias Ujung Ujungnya Duit/Uang. Melalui uang, seseorang dapat dihormati. Melalui uang, seseorang dapat dicintai. Melalui uang, seseorang bisa mendapat sahabat. Melalui uang, banyak yang dapat dimiliki. Saya mengatakannya dapat, bukan berarti mutlak. Nyatanya, memang tak semuanya bisa didapatkan dengan uang. Bernarkah?
Ketika berbicara mengenai sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, bisa jadi pikiran kita langsung tertuju pada sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan. Florence Bulle dalam "Berbagai Tipuan Dalam Gereja", mengambil analisa para psikolog untuk bukunya, yang mengatakan: "Apa yang mengikat dirimu, menguasai dirimu". Berkenaan dengan itu, ada satu hal yang menjadi tanya besar dalam hidup saya, yaitu kaitan uang dengan orang-orang yang aktif dalam kegiatan yang beraroma ke-Tuhanan. Bukankah Tuhan tak memerlukan uang? Bukankah cinta kasih, kebaikan sampai kebenaran yang diekspresikan kaum ber-Tuhan, baik vertikal maupun horizontal seharusnya tak dikendalikan oleh uang? Bukankah tujuan dari ber-Tuhan adalah melayani Tuhannya, guna "extend the kingdom of God"? Benarkah demikian?
Seorang pemimpin rohani tingkat nasional mengatakan kepada saya: "kamu harus belajar peta kekuasaan". Yang lainnya mengatakan: "...jika mau eksis hidup di luar (luar negri) sini, aktif saja di bidang agama". Apa maksud dibalik pernyataan-pernyataan tersebut? Tak perlu menjawabnya, selain hanya perlu kontemplasi diri sambil berharap, agar aktifitas ke-Tuhanan saya tak diikat hingga dikendalikan oleh uang. Yang saya katakan dikendalikan uang, bukan tak butuh uang. Dengan demikian kita dapat mengatakan, Uang bukanlah segala-galanya. Lain halnya jika sampai money laundring berbalutkan agama, itu mah urusan KPK

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:32 | Permalink 0 comments
POLITK SINGA
  • "Telah kujelaskan kepadamu tiga perubahan jiwa: Dari roh menjadi unta, Dari Unta menjadi singa, dan dari singa akhirnya menjadi anak". (Zarathustra, Nietzche)

Unta yang memikul beban nampak menolong, namun di padang pasir yang sunyi berubah menjadi singa, raja padang pasir yang menjadi lihai menghadapi tantangan kecil hingga besar. Dan itu membuat singa semakin pakar bermanuver, kejam, bengis, dan apapun demi kekuasaannya. Seperti Nietzche katakan: "mencari hambatan untuk diatasi, sebagai keinginan untuk berkuasa". Maka, memutar balikan fakta, tidak konsisten, jilat sana sini, hantam dan semua kekejian bahkan dibungkus hal-hal malaikat sekalipun bukanlah masalah besar bagi singa, karena orientasinya adalah kekuasaan.
Kaum beragama kebanyakan alergi terhadap Nietzche yang biang ateis ini. Entah karena status ateisnya Nietzche, atau karena tulisan Nietzche menghantam titik nyaman mereka? Entahlah, namun diri ini jadi teringat beberapa unta yang diimport dari dusun-dusun tetangga megapolitan lalu ditampung oleh seorang pemimpin dengan harapan untuk menolong. Namun di padang pasir, satu persatu unta berubah menjadi singa yang buas, walau embel-embel yang dipakainya selalu bernafaskan kebenaran berbau tuhan. Entah kebenaran berbau tuhan yang mana yang dimaksudkannya?
Setidaknya diri ini bisa berbangga, karena saat menjadi unta, dan merasa tak sejalan dengan penunggang, maka diri ini berani melengserkan diri dari si penunggang, daripada terus sebagai unta seperti kebanyakan unta, namun akhirnya berubah menjadi singa buas. Kesetiaan ala "udang di balik batu" yang gemar aji mumpung demi kekuasaan memang sering dipraktekkan kebanyakan singa. Mundur dong, atau bangun kerajaan baru jika memang ingin berkuasa!
Sekejab ada ditengah-tengah singa memang mengejutkan, menggelikan sekaligus menjijikkan. Oleh karenanya, menghadapi singa-singa memang tak membutuhkan nilai-nilai, tetapi lebih tepatnya mempermainkannya. Bukan untuk membalas dendam, namun memang itulah cara berkomunikasi dengan kaum singa.
Suka tidak suka, dalam mencapai tujuan kita memang kerapkali berhadapan dengan politik ala singa. Tidak perlu menjadi singa untuk merealisasikan tujuan, tapi cukup mempermainkannya. Karena ada saatnya singa menjadi singa ompong, itulah yang Nietzche maksudkan dengan "menjadi anak". Ya, politik singa memang bukan segala-galanya, walau berbalutkan kebenaran dan tuhan yang palsu sekalipun. idedicatedthisstorytomybelovedsryangdipusingkansingayangtaktaudiri.

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:31 | Permalink 0 comments
ASTANA 666?
Sekedar memberikan informasi yang didapat dari endonesia dot com, berikut ini beritanya:Jakarta, Endonesia -- Selepas Dzuhur, pukul 12.10, pada Minggu 28 Januari 2008, Soeharto yang lahir pada 8 Jun 1921 di desa Kemusuk, Yogyakarta, dikebumikan di makam keluarga Astana Giribangun, Karangayar, Wonogiri. Makam itu bertengger di ketinggian 666 meter dari permukaan laut, yang konon mem-plesetkan jumlah ayat al-Qur'am yang 6.666 ayat. ENDONESIA
Dalam agama Islam, 6.666 memang jumlah ayat pada al-Qur'am, sedangkan dalam Kristen, 666 adalah bilangan yang dinubuatkan untuk para penyesat. Jika endonesia dot com menganggap mem-plesetkan, lalu adakah kaitan antara ketinggian tersebut dengan bilangan penyesat dalam ke Kristenan?
Mungkin saya terlalu berlebihan, namun mengingat isyu "kejawen" yang sering dilekatkan kepada pak Harto, bisa jadi yang bersangkutan memahami makna bilangan 666 tersebut dalam konsep Kristen. Apalagi ditambah dengan adanya "abdi dalem" semacam bang Juan Felix Tampubolon yang katanya pernah berstatus sebagai Penginjil (semoga saya tak salah yang Bang, dan jangan disomasi). Benarkah ada makna khusus, atau hanya sebatas kebetulan? Anda bisa bantu saya memberikan jawaban?

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:29 | Permalink 0 comments
RASISvsANUGRAH

Heran juga, jika bisa berbicara mengenai betapa besarnya, agungnya, hebatnya, dan segala hal yang ingin menunjukkan besarnya kuasa dan kasih Tuhan yang disembahnya, namun dalam realita kehidupan sehari-harinya masih membedakan putih-hitam, pribumi-keturunan.
Pertanyaannya singkat saja, bukankah terjalinnya hubungan antara manusia yang berdosa dengan Tuhan yang kudus adalah suatu anugrah? Jika seorang manusia memang merasa dilayakkan hanya karena anugrah-Nya, lalu apa yang menyebabkan seseorang dapat merasa lebih dari orang yang lainnya? Bukankah saat anugrah-Nya mengalir, maka yang bersangkutan merasakan suatu kemurahan, dimana dirinya diterima apa adanya oleh-Nya? Jika Ia yang Kudus dapat menerimanya yang berdosa, lalu kenapa si penerima anugrah tak dapat menerima perbedaan warna kulit, bentuk mata, ...?
Akhirnya, mungkin kita hanya perlu bertanya, sebenarnya anugrah itu benar-benar telah mengalir, atau sekedar pura-pura mengalir? Bisa jadi, ini satu lagi masukan untuk melihat orang yang benar-benar ber-Tuhan, atau pura-pura ber-Tuhan?

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:29 | Permalink 0 comments
SURRENDER ALLvsINSTAN
Apakah Anda sedang gundah gulana, dan rasanya seperti tersambar petirnya gundala? Apa yang bisa melegakan hati Anda saat ini? Saat nongkrong dan ngobrol ngalor-ngidul dengan beberapa sahabat, Saya pun mengajukan pertanyaan yang sama, dan diantaranya mengatakan: "gue mah akan tenang, kalo sekarang megang uang 40 M"; "saya lebih memilih si "x", adik saya mati saja, karena kecanduannya akan narkoba membuat kami sekeluarga pusing"; "Aku sumpahin si "b" mampus ketabrak kereta, habisnya sebel banget, kok aku diduain"? Dan masih beberapa lagi komentar yang mengungkapkan isi hati mereka yang mengharapkan instannya solusi.
Benarkah 40M, matinya si "x", dan tertabraknya si "b" tersebut merupakan solusi paling manjur atas gejolak yang sedang berlangsung dalam hidup mereka?
Beberapa minggu ini, saya kembali diingingatkan akan kisah hidup seorang raja yang luar biasa, bernama: King of David. Tak sedikit tulisan, mulai catatan sejarah dari disiplin ilmu sekuler, sampai kitab-kitab kepercayaan, yang mencatat kisah manusia bernama David alias Daud ini. Jika ditelusuri, ternyata Daud hanyalah seorang gembala domba, tukang main alat musik kecapi, tukang antar makanan untuk kakak-kakaknya di ladang, dan tubuhnya tak se-atletis Ade Rai. Kesimpulannya, Daud itu orang yang biasa-biasa saja. Lalu, kenapa orang biasa-biasa itu bisa menjadi begitu luar biasa, hingga dicatat sebagai seorang raja yang termasyur?
Dalam Mazmur/Zabur yang saya baca, dituliskan oleh Daud: "Tuhan adalah gembalaku, ta'kan kekurangan aku..." Setelah mengamati semua tulisannya dalam bagian itu, pernyataan tersebut mengacu pada suatu keyakinan, bahwa ketika Tuhan ditempatkan sebagai Pemimpin hidupnya, maka Daud ada dalam titik yang tak kekurangan apapun. Apakah Daud tak pernah mengalami tantangan dalam hidupnya? Saya pikir tak demikian, karena di bagian yang lain dituliskan: "gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku". Anda paham kan fungsi gada dan tongkat? Gada dan tongkat tidak dipakai oleh para gembala domba untuk membelai atau mengelus domba, namun dipakai untuk menyabet sampai memukul domba, dengan tujuan, domba tak menyimpang ke kiri atau ke kanan, yang bisa membuatnya masuk ke dalam jurang. Sikap Gembala versi Daud yang memainkan tongkat dan gada memang jauh berbeda dengan sikap diktator yang memainkan gada dan tongkat, tetapi demi memuaskan hasrat sakit jiwanya.
Jadi dapat dipastikan, manusia bernama Daud ini pun mengalami hal-hal yang tak mengenakkan dalam hidupnya, namun itulah yang menghiburnya? Dalam pimpinan-Nya yang penuh cinta dan memiliki tujuan yang benar (bukan intrik, manuver, atau kepentingan udang di balik batu), akhirnya Daud mampu menuliskan: "... and i will dwell in the house of the Lord forever". Saya yakin, yang dimaksudkan Daud dengan "dwell in the house of the Lord" itu bukanlah mengacu pada sebatas tinggal selama-lamanya di mesjid, gereja, vihara, kuil atau gedung-gedung peribadatan apapun, namun pernyataan tersebut lebih mengarah pada kerinduannya untuk selalu dekat dengan Tuhan yang memimpinnya. Mungkin itu bedanya, antar orang ber-Tuhan, dengan sebatas beragama.
Sampai disini jelaslah, ditengah zaman yang semakin hedonistik, dimana produk-produk yang instan semakin digemari untuk memuaskan kesenangan, nampaknya saat ada dalam suatu tantangan kita perlu membuka diri untuk masuk dalam suatu proses. Dalam proses kita diajar, dan mungkin dihajar. Said: "God, i surrender all".

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:27 | Permalink 0 comments
GLOBAL WARMING
Jangan cuma bisa teriak anti pamer urat sampai pamer aurat, jika nyatanya suhu bumi memang sangat menyengat, dimana pakaian lengkap tak lagi nyaman untuk dikenakan dalam aktifitas sehari-hari. Meneriakkan pesan (yang katanya) moral agar berbusana lengkap nampaknya bisa jadi tak lagi rasional.
Oleh karenanya, jika kamu memang peduli dan kerapkali menyuarakan anti pamer urat dan aurat, maka mulailah dengan meminimalisir panas bumi. Mari memulainya dengan menanam pohon di halaman rumah, agar suhu bumi tak semakin membara. Yuk nanem pu'un.
Semoga halaman rumah kita bukan saja mengantisipasi global warming, namun juga menularkan semangat penghijauan kepada tetangga. Bukankah dengan itu, juga akan terbuka peluang ekspor dari kayanya tanah, air, udara dan letak geografis kita?
Bambu runcing, TKI, UKM, Mahasiswa dan rakyat peduli memang selalu dianggap kecil, namun bukankah hal-hal kecil itulah yang membuat kita tetap eksis sebagai Indonesia sampai saat ini? Bisa jadi, hijaunya tanaman di RT/RW kita jugalah yang akan menundukkan dunia. Karena apa? Global Warming memang butuh penghijauan.
Saya tak menjanjikan "kampanye moral" Anda akan sukses pasca itu, namun suara yang
Anda terhadap "anti pamer urat dan aurat" akan lebih enak dan rasional untuk di dengar pasca itu. Untuk menghasilkan 100, tidak harus dari 50+50? 1000 x 23 : 12398 - 2987683,4564 + 1 : 2 x 100 : 76738 x 0 + 100, maka hasilnya 100 juga toh.

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:24 | Permalink 0 comments
LAW ENFORCEMENT
Benarkah jika mengkaitkan krisis berkepanjangan pada negri ini dengan merosotnya moral? Apakah Arab, Amerika, Singapore, Thailand, Malaysia, dan negara-negara lainnya yang mampu mengatasi krisis sampai bisa kembali sabil hingga adil dan makmur tersebut lebih bermoral dibandingkan kita yang berstatus negara beragama? Sulit untuk mengatakannya ya, namun dapat dipastikan, keseriusan negara-negara tersebut dalam penegakan supremasi hukum.
Bukan retorika ala kampanye politik yang penuh janji-janji manis yang kita butuhkan, namun dimulainya kesadaran kita untuk mulai menegakkan supremasi hukum itulah awal pergerakan besar dalam penegakkan supremasi hukum. LAW ENFORCEMENT STARTS WITH YOU! Ini bukanlah himbauan yang ditulis oleh manusia yang benar-benar bersih. Bahkan ditengah-tegah manusia yang paling bejat, mungkin saya yang terbejat? I dunno? Namun ketika menulis ini, setidaknya diri ini mulai membangun suatu kesadaran untuk meminimalisir pelanggaran hukum, agar tak menulis layaknya seorang aparat yang menegakkan hukum, namun nyatanya hanyalah keparat.

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:23 | Permalink 0 comments
AGRARIS, MARITIM?
Ada hal menarik dari sampah yang menciptakan suatu kreatifitas perorangan hingga komunitas, dimana kompos dihasilkan. Bahkan, ketika kemudian hari digarap dengan serius, menghasilkan pemasukan yang luar menjanjikan. Mungkinkah kita menjadi negri pengekspor kompos? Sayang, lupa nama acara dan stasiun televisi yang menyiarkannya. Sambil lalu, tiba-tiba teringat status kita sebagai negara maritim dan agraris, hingga kemudian memainkan om google, dan mendapatkan data usang Kompas Online yang layak disimak, berikut ini: "Dr Ir Made L Nurjana, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya DKP, mengatakan, Indonesia sudah tertinggal dari Vietnam yang sudah mengekspor lele dan patin sejak 2005. Total ekspor Vietnam tahun lalu sekitar 70.000 ton. Saat ini, Indonesia akan mengejar ketertinggalan itu dengan meningkatkan produksi lele dan patin. "Kita sekarang sedang nego harga dengan beberapa perusahaan processing. Karena, di Amerika harga lele hanya sekitar 2,8 dollar AS per kilogram. Kalau kita mau melawan Vietnam, kita harus menawarkan harga sekitar 2,6 dollar AS per kilogram. Lele diekspor dalam bentuk fillet atau daging sayat sehingga daging yang dipakai hanya sekitar 35 persen dari total daging. Pasar ekspor juga hanya menyerap lele ukuran 800 gram ke atas per ekor," ucap Made".
Tiba-tiba lagi, teringat akan RT/RW yang sesungguhnya warisan intelegn kaum penjajah guna mengawasi gerak-gerik kita. Lalu bertanya, kenapa RT/RW yang saat ini hanya berfungsi sebatas perpanjangan tangan kelurahan tersebut tidak dimaksimalkan untuk diberikan fasilitas, dibina, didukung hingga terciptanya suatu jejaring, diawasi sampai dibantu memasarkan berbagai produk-produk yang berkaitan dengan kekayaan sumber daya alam kita? Bukankah saat memakan rambutan, lalu tak sengaja membuang bijinya ditepi jalan, maka dalam beberapa saat kemudian akan tumbuh pohon rambutan yang subur? Bahkan, ketika berbicara soal flora dan fauna, seorang kawan berkelakar soal maraknya pornografi yang dikaitkan dengan pesatnya pertumbuhan kecoa di Indonesia. Maksudnya? Menurutnya, saat seseorang membaca, melihat atau menonton sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal yag nyerempet urusan birahi, biasanya hal termudah yang dilakukan untuk memuaskan hasrat birahi setelah "membaca, melihat atau menonton", adalah dengan melakukan onani. Menurutnya lagi, sperma yang tersembur sering terbuang begitu saja hingga mengalir ke got pembuangan, hingga secara tak sengaja bisa dimakan oleh ibu kecoa. Makanya jangan heran, kalau di kamar mandi sering dilihat sama kecoa, karena bisa saja saat itu dia sedang memanggil: "bapakkk...", ujarnya. Sambil geleng-geleng kepala, mesam-mesem dan menepuk jidat, saya langsung bertanya padanya: "kok lu tau sampai sedetil itu?". Ah, hanya dijawab dengan mesam-mesem pula.
Namun ada kelanjutan cukup menarik dari hal tersebut, dimana para peternak dan petani seringkali meributkan pentingnya "tangan dingin" saat hendak terjun membudiyakan flora dan fauna. Berangkat dari kisah kecoa, serta kayanya air, tanah dan udara negri ini, bukankah sebenarnya bangsa ini dapat memaksimalkan diri menjadi negara agraris dan negara maritim, dimana tiap RT/RW melakukan gerakan membudidayakan flora dan fauna yang dipasarkan sampai tingkat ekspor? Mulai lele, ikan mas, ikan patin sampai ikan hias, lalu tanaman cabe, tanaman tomat, padi sri sampai tanaman hias seharusnya dapat diproduksi dari halaman rumah tangga, dengan harapkan mendongkrak gairah eksplorasi bangsa ini, sehingga mulai tercipta kompetensi, penciptaan nilai dan daya saing.
Andaikan mengajukan modal kerja yang hanya Ep. 500.000 sampai Rp. 20.000.000 tak perlu persyaratan minimal 2 tahun sebagai badan usaha dan birokrasi rumit yang kerapkali hanya dijangkau pemain lama sampai "tikus-putih" yang hebat memikrokan mega perusahaannya demi dana segar! Andaikan rakyat dilibatkan semaksimal mungkin dalam produksi hingga menghasilkan devisa besar! Andaikan pegawai negri sipil dimaksimalkan kinerjanya untuk membantu rakyat berproduksi ketimbang main catur atau baca koran seharian (masih nggak sih?)! Andaikan lahan-lahan tidur tak hanya difokuskan untuk bangun hutan beton! Andaikan mulai ibu rumah tangga, pensiunan aktif, anak sekolahan sampai mahasiswa mulai "dibakar" untuk jadi enterprenur dengan pengawasan RT/RW! Andaikan koperasi dikembangkan dari tingkat RT/RW! Andaikan LSM sampai partai politiknya lebih fokus pada industri rakyat, setidaknya tak perlu buang-buang uang untuk uang rokok kampanye sampai bagi-bagi kaos berbahan spanduk! Andaikan pemerintah kita lebih berpihak pada rakyat untuk berproduksi!

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:22 | Permalink 0 comments
BANJIR & WARISAN?
Saat banjir pertama menggenangi Kelapa Gading, hal itu dianggap hal yang lumrah, karena dipaksa oleh dalih jalan Sudirman saja banjir. Lalu, 5 tahun kemudian di tanggal dan bulan yang sama, si banjir pun hadir kembali, namun lebih dahsyat. Warga Kelapa gading pun berlapang dada dengan menganggapnya sebagai tamu 5 tahunani. Dan lagi-lagi dianggap suatu kewajaran.
Eh,eh, eh...belum 5 tahun, namun baru satu tahun berlangsung, akhirnya di tanggal yang lebih cepat satu hari tetapi di bulan yang sama, kok sudah datang nih banjirnya. Wajarkah?
Capek-capek nyari jawabannya dari Planologi, sampah, banjir kiriman hingga mafia pintu air, nyatanya lebih nyantol sama tulisan "PO" 06 August 2007 yang bertuliskan: "...bagi saya tidak masuk akal kalau milih Fauzi Bowo. Dia nggak pernah bilang apa maunya, cuman bilang mau meneruskan yang dulu, dengan pengalaman 30 tahun".
Ya sudah deh, namanya juga pewaris, jadi siap-siap saja bersahabat sama banjir sampai habis warisannya. Namun setelah dipikir-pikir, sekilas jadi terbesit untuk memilih pembesar kota dari ahli warisnya juga, dengan harapan akan tercipta lalu-lintas air. Supaya setiap hari serasa di istana bonekanya dufan.
Hebat, dimana planologi warisan, pengelola warisan, dan hasil warisan terasa kompak. Jangan lupakan warisan ya, biar sekalian tercipta lalu lintas diving, aau kota bawah air sekalian.

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:21 | Permalink 0 comments
MI INSTAN s/d ALM.PAK HARTO
Taukah Anda penyebab Indomie yang tinggal buka bungkusnya lalu seduh mi-nya itu bisa laris manis di pasaran? Tahukah Anda penyebab Extra Joss yang tinggal buka bungkusnya lalu aduk serbuknya tersebut dapat langsung ngejoss penggemarnya? Tahukah Anda penyebab klak-klik ala wyswyg microsof-tnya om Bill gates bisa populer versi bajakannya? Tahukah Anda penyebab handphone yang hanyak kotak kecil guna memudahkan komunikas yang sebatas gaya, namun akhirnya menjadi kebutuhan yang laku keras di pasaran layaknya kacang goreng? Tahukah Anda penyebab maraknya psikotropika yang tinggal hisap, sedot atau hirup lalu membuat semua hal melayang itu sangat digandrungi? Tahukah Anda penyebab Adsense yang hanya di klik kemudian menghasilkan dollar itu dapat melesat tinggi pesertanya? Dan tahukah Anda penyebab begitu cepatnya orang kebanyakan dinegri ini memujinya sebagai tokoh Bapak Pembangunan, lalu menghujatnya sebagai koruptor, dan kemudian menyanjungnya kembali saat berpulang sebagai Amarhum Jendral Besar Soeharto?
Jawabannya singkat saja, yaitu: "kebanyakan orang di negri ini memang menggemari hal-hal yang instan". Tidak semua gejolak instanisasi berfaedah, karena instanisasi yang terjadi seringkali hanya diwarnai kepentingan berdasar keterbatasan merasakan sampai memikirkan, dari pertumbuhan rohani, fisik, mental dan sosial yang tak seimbang. "Semoga saja waktu mendewasakan kita semua untuk merasakan dan memikirkan sesuatu secara matang dalam pengaruh gejolak instanisasi yang sangat semakin luar biasa pesat perkembangannya, agar tampilan badut-badut tak konsisten yang sebentar memuja, sebentar menghujat hingga kemudian memuja kembali tak sepopuler dan selaris jaman dulu kala. Selamat jalan pak Harto, terima kasih untuk perjuangan dan semua kontribusi yang diberikan. Akankah fenomena penghujatan kepada bung Karno di akhir hayatnya, namun akhirnya diidolakan kembali hingga akhirnya menghantar kembali keluarga bung Karno ke atas panggung politik akan terulang kepada "keluarga Cendana"?

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:20 | Permalink 0 comments
METAMORFOSIS?
@richard, 2008-januari31

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:18 | Permalink 0 comments
SILENT ISN'T ALWAYS GOLD
Ada dua cara orang ketika meyapu sampah. Orang yang pertama suka menyapu sampahnya ke pinggir, lalu menumpuknya hingga menjadi timbunan sampah baru yang lebih kotor dan berbau busuk. Orang yang kedua suka menyapu sampahnya ke tengah-tengah, lalu membakarnya habis. Ada dua cara juga dari manusia kebanyakan dalam menyelesaikan suatu masalah. Orang pertama lebih memilih diam membisu dengan alasan tak ingin ribut, atau ingin dipandang bijaksana, sampai dianggap pecinta damai. Sayangnya, isi hatinya seringkali tetap dipenuhi dengan rasa dendam dan kejengkelan yang membara. Itulah kebanyakan orang jenis yang pertama.
Orang kedua lebih memilih menyelesaikan masalahnya secara tuntas dengan mengkonfrontasikan masalahnyanya dengan yang bersangkutan, demi tercapainya pemecahan masalah. Walau anggapan pemberontak, pembangkang, sampai pembuat onar akan menempel pada dirinya karena konfrontasinya itu, namun jauh dikedalaman hatinya terfokus pada pemecahan masalah yang mendamaikan hati. Itulah kebanyakan orang jenis yang kedua.
Tak tahu Anda jenis yang mana, namun mengatakan "silent is gold" tidaklah selalu benar, karena masalah bukan untuk disisihkan hingga kelak menjadi masalah yang lebih besar.
Dan ada dua juga gaya pemimpin dalam menyelesaikan masalah yang sedang bergejolak. Pemimpin pertama lebih senang memberikan nasehat-nasehat sampai mulutnya berbusa. Harapannya, bisa mendamaikan gejolak yang sedang terjadi. Sayangnya, pemimpin jenis seringkali beriorientasi bukan pada penyelesaian masalah, melainkan lebih kepada kepentingan tak ingin direpotkan.
Pemimpin kedua lebih banyak membuka telinganya kepada kedua belah pihak, lalu menganalisa substansinya, hingga kemudian memainkan perannya layaknya seorang bapak yang bijak, dimana orientasinya tertuju pada pemecahan masalah bagi keduanya.
Tak tahu Anda jenis "pemimpin" yang mana, namun mengatakan "silent is gold" kepada pihak yang sedang bergejolak tidaklah selalu benar, karena masalah bukan untuk disisihkan hingga kelak menjadi masalah yang lebih besar.

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:15 | Permalink 0 comments
ANTHURIUM


1. Bibit Anthurium
Di tahun 2008, bibit gelombang cinta dengan 2 sampai 3 daun sudah dijual dengan harga mulai Rp. 5000/bibit, sedangkan bibit keluarga jenmani masih berkisar antara Rp. 350.000 sampai Rp. 500.000. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membeli bibit anthurium, yaitu:
  • bibit "gelombang cinta/Wave of Love/WOL" memiliki rupa yang hampir sama dengan bibit "bulu ayam/bulu jago". Jadi tanyakan langsung pada penjualnya, atau ada baiknya membeli dari penjual yang sekaligus mempunyai indukannya. Namun, penipuan "gelombang cinta" yang nyatanya "bulu ayam/bulu jago" tak separah dulu kala, mengingat harga "gelombang cinta" telah ada di titik normal, yaitu mulai Rp. 5000/bibit. Selain itu, saat ini tak sedikit orang yang justru mencari "bulu ayam/bulu jago", mengingat akarnya yang dapat nampak menyala di malam hari" jika diekspos.
  • bibit hokeri memiliki rupa yang hampir sama dengan bibit jenmani. Saat pameran di kantor Pos Pasar Baru, Jakarta di bulan Desember 2007 sampai Januari 2008 lalu, bibit hokeri sudah dijual mulai harga Rp. 50.000, sedangkan bibit jenmani masih bertengger, mulai Rp. 350.000 - Rp. 500.000. Cukup sulit juga untuk membedakan hokeri dan jenmanii, karena Rp. 350.000 yang dijual untuk jenmanii itu, hanya berukuran tak lebih dari 4 cm saja (1/4 tinggi kelingking saya). Lagi-lagi, kita memang membutuhkan garansi dari penjualnya, atau belilah jenmanii hasil split yang karakternya mulai nampak sebagai jenmani.
  • Saya tidak tahu, ada berapa banyak orang yang bisa menyemai anthurium sirih yang berasal dari biji. Sulit memang untuk menghasilkan anthurium sirih melalui biji, jadi belilah anthurium sirih hasil split, dibandingkan membeli biji.
  • Lain halnya dengan anthurium jenis cobra. Pemilik nursery ternama mengungkapkan, kalau ribuan biji yang dihasilkan oleh indukan cobra-nya, ternyata hanya menghasilkan beberapa pohon yang serupa. Lagi-lagi, lebih baik membeli hasil split, dibanding membeli biji anthurium cobra, lalu yang tumbuh justru anthurium kadut.

2. Media Tanam
Selama menanam anthurium, saya telah mencoba media tanam berikut ini:
  • pakis hitam, pupuk kandang, sekam bakar, dengan perbandingan 6:1:2. Semuanya disangrai terlebih dahulu, jika disertai pemupukan, penyinaran, penyiraman ditambah penyemprotan anti jamur yang teratur, maka anthurium akan tumbuh subur, namun melelahkan memang jika harus terus menganalisa pertumbuhannya, karena perubahan pertumbuhan dapat terlihat setiap 1,5 bulan.
  • pakis hitam, sekam bakar, dekastar, dengan perbandingan 6:2:1 sendok teh/bulan. Untuk yang ini lebih mudah perawatannya, karena hanya menyiram tiap dua hari sekali atau menyemrotnya tipis dengan sprayer jika media terlihat kering. namun kelemahannya adalah, kita tak dapat memaksimalkan pemupukan, mengingat dekastar yang bercokol disana akan sangat berbahaya jika mendapatkan penambahan pemupukan lainnya, karena pemupukan berlebih dapat mengakibatkan anthurium layu, menguning , lalu mati.
  • pakis merah, daun bambu kering, sekam bakar dengan perbandingan 6:1:2. Wah, gara-gara media ini, 10 pot anthurium yang bersi gelombang cinta, hokeri rafles, garuda hitam, hokeri batang merah saya mati semua. Entahlah, mungkin bambu kering mengakibatkan jamur tumbuh subur yang menyebabkan akar membusuk. Ide awalnya saat itu dimulai dengan bibit gelombang cinta kw1 yang saya beli tumbuh sangat rimbun, subur dan hijau dengan media ini. Memang sih, dalam pot itu juga disertakan butiran butiran gabus seperti butiran dekastar, dan saya tak menyertakan butiran gabus itu di 10 anthurium saya yang mati tersebut. Namun, terus terang saya kapok memakai media ini lagi.
  • pakis merah, cemara kering, kaliandra/daun pakis kering. Nah, yang ini aman sekali dari jamur, dan cemara kering itu memang merupakan gizi luar biasabagi anthurium. Selain itu, saya pun menyertakan pemupukan 2 minggu sekali dengan oplosan urea, KCI, SP36 dengan perbandingan 1:1:1. Tangan ini memang gatal untuk memupuk anthurium, dan hasilnya memang luar biasa. Oh ya, ada dua anthurium yang saya tambahkan arang hitam, dan hasilnya memang membuat pohon kehitaman. Entah apa sebabnya, mungkin karena kandungan karbon dalam arang.

Sekedar catatan kecil, sebenarnya pakis merah itu baik untuk bibitan, sedangkan yang remaja sampai indukan lebih baik menggunakan pakis hitam mengingat fungsi pouros nya. Dan Anda tak perlu "over acting" dengan mencacah pakis merah menjadi begitu halus hingga menjadi seperti serbuk, karena hal itu hanya akan membuat air mengendap dan mengakibatkan jamur tumbuh subur.

3. Penyinaran
Menjemur selama 30 menit - 1 jam di matahari pagi pada jam 6 sampai 8 akan sangat menolong sehatnya daun, batang dan media tanam. Sejauh yang saya amati, pohon yang teratur penyinarannya akan sehat, hijau, dan kekar. Oh ya, jika anda menggunakan pengkilap daun, sebaiknya jangan jemur anthurium anda seperti anjuran diatas. Dan jangan lupa mengangkat saat menjemur, karena akan menyebabkan daun terbakar, layu dan mati.

4. Penyiraman
jangan berlebihan, cukup 2 hari sekali, atau saat Anda melihat medianya mengering karena penguapan oleh udara yang panas, atau hembusan angin yang terlalu kuat dari kipas angin atau ac. Untuk kasus ini, cukup semprotkan tipis pada bagian permukaannya. Pokoknya nampak basah saja.

5. Pemupukan
Ada beberapa cara pemupukan, yaitu:
  • Dekastar. cukup satu bulan sekali dengan 1 sendok teh pertanaman. Saran saya, jangan gunakan dekastar pada media yang telah memakai pupuk kandang yang telah di sangrai. Cukup mengerikan, mengingat banyaknya pupuk yang terserap, karena setiap 2 minggu sekali, Anda juga menyemprotkan pupuk daun dari growmore, atau B1 atau merek lainnya.
  • Urea, SP36, KCI yang dioplos dengan perbandingan 1:1:1 akan sangat mendukung pertumbuhan. Semprotkan selama 2 minggu sekali.
  • semprotkan pupuk daun setiap dua minggu sekali. Semprot di daun, batang hingga mengalir ke bawah, namun jangan sampai becek
  • Saya juga menyarankan air mineral sebagai campuran pupuk untuk menyiram setiap 2 minggu sekali teresbut. Kalaupun ingin menghemat dengan air pam, maka endapkan dulu selama sehari, agar kandungan kaporitnya tak membahayakan tanaman. Lain halnya jika Anda tinggal di pegunungan, maka silahkan semprot dengan air sumur.
  • Jika ada masukan, atau kritik dan saran membangun untuk hal-hal yang saya uraikan, silahkan saja. Semoga tercipta online nursery demi terciptanya pasar ekspor anthurium Indonesia. Jabat erat Indonesia Raya

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:13 | Permalink 0 comments
ANTHURIUM & CUCI UANG?
Masih ingatkah Anda akan fenomena ikan diskus, ikan arwana, ikan lou-han, pohon aglonema, pohon adenium, hingga akhirnya saat ini pohon anthurium. Bukankah nominal puluhan ribu hingga milyaran rupiah mewarnai masa-masa itu? Bahkan, industri terkait pun turut kecipratan. Herannya, semua hal tersebut bisa berfluktuasi sedemikian tingginya, dan jatuh dengan hebatnya. Ingatkah akan harga burayak ikan diskus jenis blue diamond yang bisa mencapai harga Rp.200.000/ekor?; Ingatkah akan harga burayak ikan arwana jenis golden red yang bisa mencapai harga jutaan rupiah?; Ingatkah akan anakan ikan lou han yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah?; Ingatkah akan aglonema jenis pride of Sumatra hasil Greg Hambali yang dijual perdaunnya hingga puluhan ribu rupiah?; Ingatkah akan biji adenium yang bisa dijual ratusan ribu rupiah, dan ingatkah akan melangitnya harga biji gelombang cinta?
Namun apa yang terjadi selanjutnya? Bahkan dalam suatu kesempatan ada dua pengalaman tak terlupakan yang diri ini alamai, pengalaman pertama mengamati dibuangnya seekor louhan besar dengan jidat yang sangat benjol seperti habis digebuki orang sekampung, namun dibuang begitu saja oleh si pemiliki louhan kedalam danau, layaknya membuang seekor lele. Padahal, pada masanya Lou han tersebut bisa bernilai ratusan juta rupiah atau mungkin milyaran. Yang kedua, biji gelombang cinta yang bisa berharga ratusan ribu rupiah, namun akhirnya pohon gelombang cinta yang telah tumbuh subur dengan memiliki 4 daun hanya dijual seharga Rp.5000/pohon. Benarkah prediksi para petani Anthurium, bahwa bulan Agustus 2008 nanti, merupakan bulan dimana anthurium akan meledak lagi? Atau jangan-jangan nasibnya akan serupa dengan fenomena lainnya diatas? Mari memperlebar pertanyaan untuk mengambil suatu kesimpulan.
Sebagai seseorang yang pernah bekerja dalam forex market, diri ini berulangkali mendapatkan jamuan makan oleh orang-orang baru yang sampai saat ini tak dikenal, dan isi jamuan makannya juga menyediakan menu pertanyaan seputar "cuci-mencuci" uang. Dalam forex market, jika Anda piawai melakukan teknikal analisis, psikologi analisis, fundamental analisis hingga punya hoki gede, maka uang yang Anda investasikan dapat menjadi berpuluh kali lipat, (atau mungkin lebih) dalam waktu yang sangat singkat. Demikian pula sebaliknya. Apakah itu perjudian? Apakah ada bank yang tak memutar uangnya di forex market? Kesimpulannya, ini mainan legal dan lumrah bagi kalangan menengah-keatas.
Seperti halnya surga yang tetap saja ada niat kesetanan hingga menghasilkan lucifer, demikian halnya dengan segala hal didunia ini, termasuk forex market. Makanya tak heran, jika modus operandinya bisa dikemas sedemikian rupa, guna "mencuci uang kotor" supaya "bersih". Menakjubkan bukan, hingga akhirnya pemerintah sadar, lalu memasang begitu banyak "banyak pagar" untuk mengawasi dunia tersebut. Kemana para "tukang cuci" pergi untuk bermain? Dengan menghormati asas praduga tak bersalah sampai stabilitas nasional, nampaknya jawaban termudah adalah: "emang gue pikirin"! kalaupun ingin memikirkan, mungkin akan menarik untuk mengaitkan "cuci-mencuci" dengan fenomena-fenomena yang telah diuraikan diatas, setidaknya bisa membuat kita sedikit berfikir saat ingin membeli sebuah anthurium cobra naga seharga "satu em" dengan kaasitas sebagai kolektor atau petani.
Pembuktian adanya orang yang memang benar-benar kaya mendadak karena bermain dengan flora atau fauna tersebut bisa saja telah diperhitungkan sebagai biaya operasional, guna menyelubungi aksi sesungguhnya. Oleh karenanya, diri ini kurang sependapat jika menganggap berbagai fenomena tersebut hanyalah sebagai bagian dari "pop marketing" seperti Reynald Kasali katakan, karena fluktuasinya yang sangat luar biasa dan tanpa sebab itu memang patut dipertanyakan, apalagi alasan tak logis seputar import yang tinggi dari Thailand, dan ekspor yang minim dibandingkan perputarannya. Benarkah demikian? Setidaknya, diri ini tak mau kecele berulang kali saat bermain dalam hobi-hobi flora & fauna tersebut, walau produk-produk dari fenomena tersebut memang harus diakui keindahannya untuk dikoleksi. Dasar setan, sukanya memang memakai yang indah-indah! Kesimpulannya: jika anda kolektor atau penghobi, belilah yang kecil saja, dan rawlah mereka untuk memuaskan nilai seni dan hobi Anda yang tinggi. Dan jika Anda pedagang, belilah indukannya langsung, dan budidayakan lalu pasarkan dibawah waktu satu tahun. Semoga tak kecele!

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:13 | Permalink 0 comments
FENOMENA SEDIKIT
Katanya, sedikit rambut di depan itu suka mikir, dan sedikit rambut di belakang itu suka merasa. Bagaimana dengan sedikit rambut di depan dan belakang? Katanya lagi, sedikit rambut depan belakang ini berarti "gue pikir, gue pinter"? Entahlah dengan kebenaran cerita tersebut, namun fenomena "gue pikir gue pinter" karena sedikit-sedikit memang kerapkali tumbuh subur di tengah-tengah bangsa yang sedang berkembang.
Contohnya nih, sedikit tau soal software dan hardware, langsung merasa diri sebagai brainware handal. Sedikit bayar kredit mobil, langsung merasa sebagai "anak menteng"(sorry, bukan menteng atas, bawah, kiri atau kanan). Sedikit lihat gambar porno dari "17+an" langsung pengen "col-col". Sedikit bayar kreditan motor, langsung bergaya seperti "abauw", padahal malemnya ngojek. Sedikit punya uang hasil ngutang dari cash advance credit card, langsung merasa sebagai Donald Trump. Sedikit baca koran, bacotnya langsung kayak politikus sandal, eh handal. Sedikit cantik karena baru creambath di Lu Tu Ye, langsung Lu Sa Pa sama orang lain. Sedikit tahu cara ngintip komputer client/teman/orang lain, langsung merasa hacker, padahal yang diintip itu "bayangan fatamorgana" yang sengaja dibuat si bersangkutan, makanya "si sedikit" selalu berkata: "kok yang dibuka itu-itu aja sih, ngapain sih tuh orang"?
Ah, masih banyak lagi fenomena "sedikit-sedikit" di sekitar kita yang menggelikan sekaligus menyedihkan, namun bersyukur dengan gerakan "sadar ngeblog supaya kagak goblog", semoga semakin banyak yang mau membaca, semakin banyak yang mau menulis apa adanya (bukan kopi paste, apalagi kopi tubruk), sampai semakin terbuka untuk dikritik dan kritis untuk membangun atau dibangun. Semoga lahan-lahan tidur diberbagai daerah dapat dieksplorasi oleh "angkatan muda yang penuh". yuk nge-blog!

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:12 | Permalink 0 comments
KATAKANLAH SEJUJURNYA
Kalau tak suka, katakan tak suka! Kalau tak cocok, katakan tak cocok! Kalau ... apapun yang kamu rasakan sampai pikirkan tak sesuai dengan apa yang kamu rasakan dan pikirkan atau sebaliknya, ekspresikanlah itu demi suatu proses pendewasaan semuanya, layaknya besi menajamkan besi demi tercapainya suatu tujuan.
Ramah tamah, senyuman manis, jabatan erat, jamuan makan dan semua ekspresi yang mempertontonkan kebaikan itu hanya akan jadi suatu kepalsuan yang berindikasi kemunafikan, jika akhirnya kamu tidak dapat menyatakan yang ya diatas yang ya, dan tidak diatas yang tidak kepada suatu proses yang bergejolak. Dan yang lebih disayangkan adalah, lambat laun akan semakin banyak manusia yang memahami ketidakmurnian senyumanmu, ketidakmurnian keakrabanmu dan ketidakmurian seyum manismu itu, bahkan cendrung memuakkan. Jadi, mulailah dengan membebaskan diri dalam mengekspresikan sesuatu berdasarkan kata hati yang sesungguhnya. Kalaupun merasa, standard yang kamu miliki kurang untuk menilai sampai mengekspresikan hatimu terhadap sesuatu yang bergejolak, maka bacalah buku, bergaulah dengan semakin banyak manusia, atau serap banyak banyak hal melalui berbagai media yang ada sesuai tujuanmu. Dengan demikian, kebiasaan seperti bayi yang hanya bisa merengek minta bala bantuan saat mengalami suatu gejolak akan mulai terkikis, dan kamu berdiri sebagai kamu yang matang ditengah dunia yang semakin heboh modus operandinya.

saya dedikasikan tulisan ini buat "kamu-kamu" anak-anak mami yang terkungkung dalam dunia yang sempit.

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:11 | Permalink 0 comments
SUKSESNYA PENGHIANAT
John C.Maxwell menuliskan: "sukses tidak dibangun dalam sehari, namun setiap hari". Dalam mencapai suatu tujuan, pastilah melewati suatu proses. Dalam proses itulah seseorang maupun kelompok memainkan kepentingannya, baik kepentingan buruk, kepentingan sebatas baik atau kepentingan benar. Itulah realita yang perlu disadari, dimana kepentingan bermain.
Sangat disayangkan memang, apabila kepentingan benar dibunuh demi mencapai suatu tujuan dalam suatu proses. Perhatikan orang di sekitar Anda, baik keluarga, pimpinan, anak buah, rekan sekerja, teman, sahabat atau orang yang memusuhi Anda, lalu cermati kepentingan yang sedang dimainkannya, dan waspadalah serta nikmatilah kepentingannya. Sangat disayangkan memang, karena sebagai manusia kita memiliki keterbatasan untuk memahami semuanya, walau kita sudah berusaha sekuat mungkin waspada dan menikmatinya. Dan umumnya, yang sering kali membuat kita "kecolongan" adalah kemunafikan para penghianat yang memiliki kemasan baik dihadapan kita, namun ternyata "menusuk dari belakang". Inilah yang paling berbahaya, dan hampir tidak ada yang bisa saya katakan untuk pengalaman pahit seperti ini selain berkata: "terkutuklah", disertai dengan pengharapan agar perkataan ini terealisasi atasnya, sehingga ia atau mereka menjadi "hakal dama" (tanah berdarah).
Salahkah saya? Silahkan menganggap ini sebagai suatu kedangkalan berfikir atau kesalahan menurut nilai-nilai Anda yang sangat tinggi, namun setidaknya saya berusaha jujur mengatakan isi hati ini, dan berkaca agar saya tak perlu memainkan kepentingan buruk atau sebatas baik yang melakukan penghianatan demi sukses dalam proses tiap-tiap hari ketika mencapai suatu tujuan.

baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 18:09 | Permalink 0 comments
WELKOM
Senin, 2008 Februari 18
Terima kasih telah mengunjungi ripsi. RiPSI|RIchardPaulusSIanipar. Saya menyambut Anda dengan senyuman manis dan menerima Anda apa adanya.
Banyak orang bertanya tentang makna header www.ripsi.net, soal darah dan nuansa Hard Rock Cafe. Ripsi Rock bernuansa Hard Rock Cafe mengartikan mimpi saya untuk membeli franchise HardRockCafe (entah kapan, mungkinkah???). Namun terkadang suka timbul sedikit keraguan (mungkin banyak), karena dibalik
philosophy Hard Rock cafe yang mengatakan: "Love All-Serve All", nyatanya harga menunya selangit, hingga secara tak langsung menolak kaum marjinal nongkrong disana. Where's "Love All - Serve All"? Sungguh bertentangan dengan sejarah berdirinya?! He he he... jika kesan glamour Hard Rock Cafe tak lagi mungkin diminimalisir, berarti saya lebih memilih membuka Ripsi Dangdoet-Warkop, dibandingkan mendemo Hard Rock Cafe. Bukan anti demo, tapi terkesan o'on sekali kalau sampai demo Hard Rock Cafe dalam konteks itu. So what?
Bagaimana dengan darah? Kebanyakan orang merasa parno/paranoid dengan darah. Realitanya, kita hidup karena darah masih dipompa jantung. Sisi lainnya, darah memiliki makna khusus dalam hidup saya, dimana saya merasakan anugrah-Nya. Kira-kira, begitulah kurang lebihnya, dimana semuanya yang di header itu mencoba menyebrangkan diri saya yag menganggap penting untuk bertumbuh secara seimbang dalam hal spiritual, fisik, mental dan sosial.
Banyak hal yang ditulis disini, mulai soal kancut sampai Kepala Negara, namaya juga blog ya. Jadi, kalau tulisannya ada yang rada-rada sotoy(sok tahu), hingga memusingkan Anda, ya dimaklumkan saja. Samasekali bukan berarti sok tahu semuanya dan terkesan selfcenterness, tapi lebih kepada suatu pengharapan, agar apapun yang sedang bergejolak dalam saya bisa mendapatkan sentuhan Anda, guna membantu kontemplasi diri ini. Semoga diantara kita terjalin hubungan persahabatan. Wah luar biasa sekali itu.

Seperti halnya saya menerima Anda apa adanya, semoga Anda juga menerima saya apa adanya. Kalaupun BT dan ingin hang out, ya silahkan saja. Karena bagi saya, banyak kawan tak sepenting banyak sahabat.
Jangan lupa komentarnya ya. Thanks in advance, and God bless you.


baca selengkapnya..
 
posted by richard paul at 14:47 | Permalink 3 comments
SERBA- SERBI 2009
Sabtu, 2008 Februari 16