...GELOMBANG KE-4
Jumat
"45, 66, 3, 3 1/2 MENUJU GELOMBANG KE-4" berbicara mengenai gelombang Indonesia sebagai Republik Indonesia. Mulai bambu runcing hingga Proklamasi yang menghantar kemerdekaan Indonesia di tahun 45; Mahasiswa pro Soeharto yang menggulingkan bung Karno di tahun 66; Mahasiswa era berjayanya kembali bung Karno yang menggulingkan Soeharto, itulah era reformasi; Reformasi yang identik dengan repotnasi akhirnya mengangkat Gus Dur, dengan pengharapan Indonesia menjadi lebih baik, namun ditengah jalan Gus Dur dilengserkan, hingga menghasilkan berbagai celaan atas aksi yang tak klimaks tersebut. Itulah sebabnya gelombang ini dinamakan gelombang 3 1/2; Bukankah era SBY adalah gelombang keempat? Boleh dikatakan, era SBY belum dianggap sebagai gelombang keempat, namun lebih tepat untuk mengatakannya sebagai usaha membangun pondasi menjelang gelombang keempat. Kenapa demikian?
Penentuan gelombang tidak didirikan atas masa kepemimpinan seorang Presiden, karena nyatanya pak Harto 5 kali lipat berkuasa lebih banyak, sedangkan yang lainnya ada yang tak sampai masa satu periode sekalipun. Penentuan gelombang juga tak bisa didirikan atas hasil yang dicapai seorang Presiden dimasa berkuasanya, karena nyatanya kita kesulitan mengukur pertumbuhan kwalitas yang dihasilkan Presiden melalui laporan tahunannya dibandingkan realita rakyat yang tetap menderita. Jadi jelaslah, gelombang coba dibuat berdasarkan sesuatu yang fenomenal dan berdampak pada perubahan yang signifikan pada rakyat itu sendiri. Jika demikian halnya, akankah gelombang keempat dinyatakan saat revolusi bergolak? Kenapa mengacu pada revolusi?
Saat Gus Dur dilengserkan, sebenarnya revolusi bisa saja terjadi. Banyak orang mengatakan Gus Dur kekanak-kanakan karena terus mengungkapkan kekecewaannya pasca pelengseran tersebut. Bahkan dalam suatu acara talk show baru-baru ini, dengan tegas Gus Dur mengatakan bangsa ini penakut. Sontak dada terkejut mendengarnya.
Namun jika dipikirkan dengan waras, kekecewaan serta pernyataan Gus Dur yang mengejutkan tersebut tak layak disebut kekanak-kanakan. Justru lebih cocok jika kita yang waras berdiri tegap dan mengangkat tangan kanan menghormatinya. Kok?
Nyatanya, negara ini memang negara Islam terbesar di dunia, dimana mayoritasnya adalah warga NU. Layaknya warga kerajaan umumnya, warga NU pun menghormati pemimpinnya seperti raja. Andaikan Gus Dur tak membanyol dan menyikapi pelengserannya dengan serius, bukan tak mungkin revolusi terjadi saat itu. Ah, Belanda saja yang bersenapan mesin bisa digulingkan dengan bambu runcing. Jadi, posisi NU yang mayoritas serta bersahabat dengan kalangan agama lain bukan hal yang mustahil untuk menjadi suatu kekuatan besar, walau sekelas bambu runcing. Oleh karenanya, akan lebih bijaksana dan dianggap waras jika kita tak mengatakan Gus Dur kekanak-kanakan. Angkatlah hormat atas banyolannya yang lucu, walau hatinya teriris untuk saya dan Anda.
Jika demikian halnya, kenapa kita tak langsung saja bersepakat untuk langsung mencalonkan Gus Dur di 2009 untuk Indonesia yang lebih baik? Selain Gus Dur tak mau, karena dirinya menghormati keberagaman suara dalam pesta demokrasi 2009, nampaknya Gus Dur pun perlu berfikir keras untuk mencalonkan diri di 2009 demi meminimalisir kemungkinan terjadinya revolusi. Kenapa demikian? Ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan Gus Dur, yaitu:
  1. J.F Clark mengatakan: "A Politician Thinks About The Next Election, A Statesman Thinks About The Next Generation". Gus Dur serta bung Karno memiliki bakat negarawan yang terbukti dalam sejarah ke-presidenan Indonesia. Kalau saja peran negarawan lebih dipilih Gus Dur, pastilah akan lebih mudah memultiplikasi negarawan baru, dibandingkan harus berperang dengan politisi ditengah-tengah bangsa yang telah diindoktrinasi (sadar tak sadar) bahwa politik adalah segala-galanya.
  2. Proyek jangka panjang ala bung Karno dan Gus Dur memang sulit dipahami oleh penggemar obrolan warung kopi, apalagi kalau warung kopinya diisi kepentingan penjahat kerah putih bergaya peduli orang susah. Gus Dur pun memiliki nilai lebih dibandingkan bung Karno. Dimana nilai lebih Gus Dur dibandingkan bung Karno? Setidaknya Gus Dur tak anti Koes Plus, berbusana funky saat di istana, dan cukup satu istri. Intinya, walau bung Karno sama hebatnya dengan Gus Dur, namun kesederhanaan Gus Dur tak membuat kita curiga akan adanya uang negara yang tersembunyi. Yang saya katakan curiga, jadi bukan menuduh. Jika demikian, Gus Dur sebagai negarawan yang dimaksud akan lebih punya kesempatan lebih untuk dekat kepada rakyat guna mengimpartasikan proyek jangka panjangnya itu, jika ia sebagai negarawan.
  3. Layaknya komputer, Gus Dur itu dual core. Sayangnya, negri ini masih memakai motherboard dan procecor untuk Pentium 233. Kendala pasti ada ketika Gus Dur bukan sebagai presiden, namun menjadi presiden lagi dan dilengserkan lagi karena Pentium 233 tak bisa menerima dual core akan membawa negri ini pada kendala yang lebih besar, dimana kemungkinan revolusi bisa saja terjadi. Bukankah pengalaman pahit kedua tak lagi bisa dibuat banyolan? Seperti Gus Dur pernah katakan: "manusia ada batasnya".
Mungkinkah gelombang keempat dimasuki dengan revolusi? Tentu kita tak mengharapkan itu terjadi, namun bukan berarti juga membungkam Gus Dur untuk tak mengikuti pesta 2009. Seperti Gus Dur mematuhi apa yang "Orang-Orang tua" katakan, nampaknya pendekatan masing-masing kita perlu diarahkan pada pendekatan spiritual (bukan klenik), agar "Orang-orang tua" yang dimaksudkan Gus Dur ditundukkan pada kehendak Tuhan atas negri ini. Kalaupun nyatanya Gus Dur tetap maju, maka seperti halnya Gus Dur menhormati orang lain, nampaknya kita juga perlu menghormati apa yang diyakininya. Dan orang-orang tipikal Wimar Witoelar memang perlu diperbanyak Gus Dur untuk sosialisasi pemikiran dan langkahnya yang dual core itu. Dan kapoklah bagi-bagi kursi.
Mungkin Anda berfikir analisa ini terlalu berlebihan. Coba tanggalkan analisa ala Amerika atau Kairo Anda, dan lihatlah kenyataannya, bahwa ini memang negara Islam terbesar di dunia, dimana NU mayoritasnya. People power ditangan Gus Dur patut diperhitungkan dengan serius.
Gelombang keempat di depan mata, dan tak bijaksana jika hanya menunggu bola menjelang 64 tahun kemerdekaan. Lalu dimulai darimanakah? Dimulai dari saya dan Anda yang memaksimalkan pertumbuhan yang seimbang dalam hal rohani, fisik, mental dan sosial, dimana kepentingan buruk sampai kepentingan sebatas baik diminimalisir demi terciptanya kepentingan benar. Karena kepentingan benarlah substansi untuk pemecahan masalah bangsa ini, dimana mulai tegaknya supremasi hukum akan membakar eksplorasi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang tertidur.
Kita negara agraris dan maritim, bukan negara politik. Itulah sebabnya negarawan dibutuhkan untuk membawa kita pada gelombang keempat guna mulai menciptakan rumah yang nyaman untuk ditempati.
Saya tuliskan ini saat putra saya berusia tepat 2 tahun. Dengan harapan, kelak ia akan bangga sebagai manusia Indonesia, dimana tanah, air, udara dan manusianya tak tertidur.

Label:

 
posted by richard™ at 20:21 | Permalink


4 Comments:


At 15 Maret, 2008 20:00, Blogger junjungpurba

sebenarnya bangsa ini bukan penakut, tapi lebih tepatnya menjadi penakut.

benar sekali, dulu kita bisa menang melawan penjajah yang memiliki segudang kecanggihan sedangkan sekarang dengan malaysia aja kita terlalu segan (jika tidak ingin dikatakan takut). Padahal malaysia tidak ada apa2nya, hanya negara kecil yang kemerdekaannya diperoleh dari "pemberian" inggris.

Sepertinya Indonesia perlu sedikit arogan agar tidak menjadi bulan2an pelecehan negara lain.

 

At 17 Maret, 2008 00:05, Anonymous richard

Arogan versi "junjung" boleh juga untuk disimak. Thanks ya komennya!
Soal Malaysia, sebenarnya cukup kirim korek api seharga gopek, lalu ekspor asap, selesai sudah. Sayangnya, kita memang jauh lebih elegan dibandingkan Malaysia.
Diplomasikah ini? Memang! Nyatanya, salah satu hal yang membuat kita masih eksis sebagai NKRI sampai saat ini dikarenakan jasa pahlawan devisa bernama TKI. Dan TKI banyak di Malaysia.
Jika demikian halnya, arogansi macam apa yang mau kita ekspresikan? Bukankah realitanya NKRI masih eksis karena (sadar tak sadar, langsung tak langsung) kontribusi Malaysia juga?
Kuncinya memang ada di pemerintah sebagai penyelenggara negara. Saya sih ogah, kalau harus jadi "Euricco Guteres" part II. Menyakitkan sekali itu?
Itulah sebabnya saya repot-repot berfikir soal gelombang keempat, dan coba bergerak dari apa yang ada pada saya. Karena ketika berbicara dalam konteks negara, kembali terkait pada siapa yang memimpin di pucuk negara tersebut. Arogan it's ok, asal Pemimpinnya juga ok. Pertanyaannya, apakah arogansi substansinya untuk gelombang ke-4 yang membawa Indonesia lebih baik?

 

At 30 Maret, 2008 20:49, Blogger Kristina DIAN Safitry

siiip...menarik banget artikelnya. ilmuku bertambah,hi...hi... gus dur oh gus dur..

 

At 27 Juli, 2008 03:28, Anonymous richard™

he he he mbak KDS pasti jauh lebih memahami dari saya, soal menciptakan Indonesia yang lebih baik. karna orang yang berjuang untuk rakyat, jauh lebih pol untuk bicara Indonesia yang lebih baik. I salute you!

Sayang si mbak diluar negri, andaikan di dalem negri dan mencalonkan menjadi presiden, saya pasti nyoblos mbak! *upss ... coblosnya literal loh mbak*

hidup mbak KDS!

 
Earn money with Scour!
/ricat+astok/