AGRARIS, MARITIM?
Selasa
Ada hal menarik dari sampah yang menciptakan suatu kreatifitas perorangan hingga komunitas, dimana kompos dihasilkan. Bahkan, ketika kemudian hari digarap dengan serius, menghasilkan pemasukan yang luar menjanjikan. Mungkinkah kita menjadi negri pengekspor kompos? Sayang, lupa nama acara dan stasiun televisi yang menyiarkannya. Sambil lalu, tiba-tiba teringat status kita sebagai negara maritim dan agraris, hingga kemudian memainkan om google, dan mendapatkan data usang Kompas Online yang layak disimak, berikut ini: "Dr Ir Made L Nurjana, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya DKP, mengatakan, Indonesia sudah tertinggal dari Vietnam yang sudah mengekspor lele dan patin sejak 2005. Total ekspor Vietnam tahun lalu sekitar 70.000 ton. Saat ini, Indonesia akan mengejar ketertinggalan itu dengan meningkatkan produksi lele dan patin. "Kita sekarang sedang nego harga dengan beberapa perusahaan processing. Karena, di Amerika harga lele hanya sekitar 2,8 dollar AS per kilogram. Kalau kita mau melawan Vietnam, kita harus menawarkan harga sekitar 2,6 dollar AS per kilogram. Lele diekspor dalam bentuk fillet atau daging sayat sehingga daging yang dipakai hanya sekitar 35 persen dari total daging. Pasar ekspor juga hanya menyerap lele ukuran 800 gram ke atas per ekor," ucap Made".
Tiba-tiba lagi, teringat akan RT/RW yang sesungguhnya warisan intelegn kaum penjajah guna mengawasi gerak-gerik kita. Lalu bertanya, kenapa RT/RW yang saat ini hanya berfungsi sebatas perpanjangan tangan kelurahan tersebut tidak dimaksimalkan untuk diberikan fasilitas, dibina, didukung hingga terciptanya suatu jejaring, diawasi sampai dibantu memasarkan berbagai produk-produk yang berkaitan dengan kekayaan sumber daya alam kita? Bukankah saat memakan rambutan, lalu tak sengaja membuang bijinya ditepi jalan, maka dalam beberapa saat kemudian akan tumbuh pohon rambutan yang subur? Bahkan, ketika berbicara soal flora dan fauna, seorang kawan berkelakar soal maraknya pornografi yang dikaitkan dengan pesatnya pertumbuhan kecoa di Indonesia. Maksudnya? Menurutnya, saat seseorang membaca, melihat atau menonton sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal yag nyerempet urusan birahi, biasanya hal termudah yang dilakukan untuk memuaskan hasrat birahi setelah "membaca, melihat atau menonton", adalah dengan melakukan onani. Menurutnya lagi, sperma yang tersembur sering terbuang begitu saja hingga mengalir ke got pembuangan, hingga secara tak sengaja bisa dimakan oleh ibu kecoa. Makanya jangan heran, kalau di kamar mandi sering dilihat sama kecoa, karena bisa saja saat itu dia sedang memanggil: "bapakkk...", ujarnya. Sambil geleng-geleng kepala, mesam-mesem dan menepuk jidat, saya langsung bertanya padanya: "kok lu tau sampai sedetil itu?". Ah, hanya dijawab dengan mesam-mesem pula.
Namun ada kelanjutan cukup menarik dari hal tersebut, dimana para peternak dan petani seringkali meributkan pentingnya "tangan dingin" saat hendak terjun membudiyakan flora dan fauna. Berangkat dari kisah kecoa, serta kayanya air, tanah dan udara negri ini, bukankah sebenarnya bangsa ini dapat memaksimalkan diri menjadi negara agraris dan negara maritim, dimana tiap RT/RW melakukan gerakan membudidayakan flora dan fauna yang dipasarkan sampai tingkat ekspor? Mulai lele, ikan mas, ikan patin sampai ikan hias, lalu tanaman cabe, tanaman tomat, padi sri sampai tanaman hias seharusnya dapat diproduksi dari halaman rumah tangga, dengan harapkan mendongkrak gairah eksplorasi bangsa ini, sehingga mulai tercipta kompetensi, penciptaan nilai dan daya saing.
Andaikan mengajukan modal kerja yang hanya Ep. 500.000 sampai Rp. 20.000.000 tak perlu persyaratan minimal 2 tahun sebagai badan usaha dan birokrasi rumit yang kerapkali hanya dijangkau pemain lama sampai "tikus-putih" yang hebat memikrokan mega perusahaannya demi dana segar! Andaikan rakyat dilibatkan semaksimal mungkin dalam produksi hingga menghasilkan devisa besar! Andaikan pegawai negri sipil dimaksimalkan kinerjanya untuk membantu rakyat berproduksi ketimbang main catur atau baca koran seharian (masih nggak sih?)! Andaikan lahan-lahan tidur tak hanya difokuskan untuk bangun hutan beton! Andaikan mulai ibu rumah tangga, pensiunan aktif, anak sekolahan sampai mahasiswa mulai "dibakar" untuk jadi enterprenur dengan pengawasan RT/RW! Andaikan koperasi dikembangkan dari tingkat RT/RW! Andaikan LSM sampai partai politiknya lebih fokus pada industri rakyat, setidaknya tak perlu buang-buang uang untuk uang rokok kampanye sampai bagi-bagi kaos berbahan spanduk! Andaikan pemerintah kita lebih berpihak pada rakyat untuk berproduksi!

Label: ,

 
posted by richardâ„¢ at 18:22 | Permalink


0 Comments:


Earn money with Scour!
/ricat+astok/