ANTHURIUM & CUCI UANG?
Selasa
Masih ingatkah Anda akan fenomena ikan diskus, ikan arwana, ikan lou-han, pohon aglonema, pohon adenium, hingga akhirnya saat ini pohon anthurium. Bukankah nominal puluhan ribu hingga milyaran rupiah mewarnai masa-masa itu? Bahkan, industri terkait pun turut kecipratan. Herannya, semua hal tersebut bisa berfluktuasi sedemikian tingginya, dan jatuh dengan hebatnya. Ingatkah akan harga burayak ikan diskus jenis blue diamond yang bisa mencapai harga Rp.200.000/ekor?; Ingatkah akan harga burayak ikan arwana jenis golden red yang bisa mencapai harga jutaan rupiah?; Ingatkah akan anakan ikan lou han yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah?; Ingatkah akan aglonema jenis pride of Sumatra hasil Greg Hambali yang dijual perdaunnya hingga puluhan ribu rupiah?; Ingatkah akan biji adenium yang bisa dijual ratusan ribu rupiah, dan ingatkah akan melangitnya harga biji gelombang cinta?
Namun apa yang terjadi selanjutnya? Bahkan dalam suatu kesempatan ada dua pengalaman tak terlupakan yang diri ini alamai, pengalaman pertama mengamati dibuangnya seekor louhan besar dengan jidat yang sangat benjol seperti habis digebuki orang sekampung, namun dibuang begitu saja oleh si pemiliki louhan kedalam danau, layaknya membuang seekor lele. Padahal, pada masanya Lou han tersebut bisa bernilai ratusan juta rupiah atau mungkin milyaran. Yang kedua, biji gelombang cinta yang bisa berharga ratusan ribu rupiah, namun akhirnya pohon gelombang cinta yang telah tumbuh subur dengan memiliki 4 daun hanya dijual seharga Rp.5000/pohon. Benarkah prediksi para petani Anthurium, bahwa bulan Agustus 2008 nanti, merupakan bulan dimana anthurium akan meledak lagi? Atau jangan-jangan nasibnya akan serupa dengan fenomena lainnya diatas? Mari memperlebar pertanyaan untuk mengambil suatu kesimpulan.
Sebagai seseorang yang pernah bekerja dalam forex market, diri ini berulangkali mendapatkan jamuan makan oleh orang-orang baru yang sampai saat ini tak dikenal, dan isi jamuan makannya juga menyediakan menu pertanyaan seputar "cuci-mencuci" uang. Dalam forex market, jika Anda piawai melakukan teknikal analisis, psikologi analisis, fundamental analisis hingga punya hoki gede, maka uang yang Anda investasikan dapat menjadi berpuluh kali lipat, (atau mungkin lebih) dalam waktu yang sangat singkat. Demikian pula sebaliknya. Apakah itu perjudian? Apakah ada bank yang tak memutar uangnya di forex market? Kesimpulannya, ini mainan legal dan lumrah bagi kalangan menengah-keatas.
Seperti halnya surga yang tetap saja ada niat kesetanan hingga menghasilkan lucifer, demikian halnya dengan segala hal didunia ini, termasuk forex market. Makanya tak heran, jika modus operandinya bisa dikemas sedemikian rupa, guna "mencuci uang kotor" supaya "bersih". Menakjubkan bukan, hingga akhirnya pemerintah sadar, lalu memasang begitu banyak "banyak pagar" untuk mengawasi dunia tersebut. Kemana para "tukang cuci" pergi untuk bermain? Dengan menghormati asas praduga tak bersalah sampai stabilitas nasional, nampaknya jawaban termudah adalah: "emang gue pikirin"! kalaupun ingin memikirkan, mungkin akan menarik untuk mengaitkan "cuci-mencuci" dengan fenomena-fenomena yang telah diuraikan diatas, setidaknya bisa membuat kita sedikit berfikir saat ingin membeli sebuah anthurium cobra naga seharga "satu em" dengan kaasitas sebagai kolektor atau petani.
Pembuktian adanya orang yang memang benar-benar kaya mendadak karena bermain dengan flora atau fauna tersebut bisa saja telah diperhitungkan sebagai biaya operasional, guna menyelubungi aksi sesungguhnya. Oleh karenanya, diri ini kurang sependapat jika menganggap berbagai fenomena tersebut hanyalah sebagai bagian dari "pop marketing" seperti Reynald Kasali katakan, karena fluktuasinya yang sangat luar biasa dan tanpa sebab itu memang patut dipertanyakan, apalagi alasan tak logis seputar import yang tinggi dari Thailand, dan ekspor yang minim dibandingkan perputarannya. Benarkah demikian? Setidaknya, diri ini tak mau kecele berulang kali saat bermain dalam hobi-hobi flora & fauna tersebut, walau produk-produk dari fenomena tersebut memang harus diakui keindahannya untuk dikoleksi. Dasar setan, sukanya memang memakai yang indah-indah! Kesimpulannya: jika anda kolektor atau penghobi, belilah yang kecil saja, dan rawlah mereka untuk memuaskan nilai seni dan hobi Anda yang tinggi. Dan jika Anda pedagang, belilah indukannya langsung, dan budidayakan lalu pasarkan dibawah waktu satu tahun. Semoga tak kecele!
Namun apa yang terjadi selanjutnya? Bahkan dalam suatu kesempatan ada dua pengalaman tak terlupakan yang diri ini alamai, pengalaman pertama mengamati dibuangnya seekor louhan besar dengan jidat yang sangat benjol seperti habis digebuki orang sekampung, namun dibuang begitu saja oleh si pemiliki louhan kedalam danau, layaknya membuang seekor lele. Padahal, pada masanya Lou han tersebut bisa bernilai ratusan juta rupiah atau mungkin milyaran. Yang kedua, biji gelombang cinta yang bisa berharga ratusan ribu rupiah, namun akhirnya pohon gelombang cinta yang telah tumbuh subur dengan memiliki 4 daun hanya dijual seharga Rp.5000/pohon. Benarkah prediksi para petani Anthurium, bahwa bulan Agustus 2008 nanti, merupakan bulan dimana anthurium akan meledak lagi? Atau jangan-jangan nasibnya akan serupa dengan fenomena lainnya diatas? Mari memperlebar pertanyaan untuk mengambil suatu kesimpulan.
Sebagai seseorang yang pernah bekerja dalam forex market, diri ini berulangkali mendapatkan jamuan makan oleh orang-orang baru yang sampai saat ini tak dikenal, dan isi jamuan makannya juga menyediakan menu pertanyaan seputar "cuci-mencuci" uang. Dalam forex market, jika Anda piawai melakukan teknikal analisis, psikologi analisis, fundamental analisis hingga punya hoki gede, maka uang yang Anda investasikan dapat menjadi berpuluh kali lipat, (atau mungkin lebih) dalam waktu yang sangat singkat. Demikian pula sebaliknya. Apakah itu perjudian? Apakah ada bank yang tak memutar uangnya di forex market? Kesimpulannya, ini mainan legal dan lumrah bagi kalangan menengah-keatas.
Seperti halnya surga yang tetap saja ada niat kesetanan hingga menghasilkan lucifer, demikian halnya dengan segala hal didunia ini, termasuk forex market. Makanya tak heran, jika modus operandinya bisa dikemas sedemikian rupa, guna "mencuci uang kotor" supaya "bersih". Menakjubkan bukan, hingga akhirnya pemerintah sadar, lalu memasang begitu banyak "banyak pagar" untuk mengawasi dunia tersebut. Kemana para "tukang cuci" pergi untuk bermain? Dengan menghormati asas praduga tak bersalah sampai stabilitas nasional, nampaknya jawaban termudah adalah: "emang gue pikirin"! kalaupun ingin memikirkan, mungkin akan menarik untuk mengaitkan "cuci-mencuci" dengan fenomena-fenomena yang telah diuraikan diatas, setidaknya bisa membuat kita sedikit berfikir saat ingin membeli sebuah anthurium cobra naga seharga "satu em" dengan kaasitas sebagai kolektor atau petani.
Pembuktian adanya orang yang memang benar-benar kaya mendadak karena bermain dengan flora atau fauna tersebut bisa saja telah diperhitungkan sebagai biaya operasional, guna menyelubungi aksi sesungguhnya. Oleh karenanya, diri ini kurang sependapat jika menganggap berbagai fenomena tersebut hanyalah sebagai bagian dari "pop marketing" seperti Reynald Kasali katakan, karena fluktuasinya yang sangat luar biasa dan tanpa sebab itu memang patut dipertanyakan, apalagi alasan tak logis seputar import yang tinggi dari Thailand, dan ekspor yang minim dibandingkan perputarannya. Benarkah demikian? Setidaknya, diri ini tak mau kecele berulang kali saat bermain dalam hobi-hobi flora & fauna tersebut, walau produk-produk dari fenomena tersebut memang harus diakui keindahannya untuk dikoleksi. Dasar setan, sukanya memang memakai yang indah-indah! Kesimpulannya: jika anda kolektor atau penghobi, belilah yang kecil saja, dan rawlah mereka untuk memuaskan nilai seni dan hobi Anda yang tinggi. Dan jika Anda pedagang, belilah indukannya langsung, dan budidayakan lalu pasarkan dibawah waktu satu tahun. Semoga tak kecele!
Label: anthurium, anthurium dan cuci uang, cuci uang
