GURU vs GOOGLE
Selasa
Seseorang bertanya tentang latar belakang pendidikan, dan dengan cepat saya menjawab: "from University of Google". Setelah mengucapkan itu, beberapa saat kemudian saya merenungkan berbagai disiplin ilmu yang pernah saya jelajahi, lalu coba mengingat semua hal yang pernah dipelajari. Nyatanya, hanya 30% (mungkin) ilmu yang benar-benar saya ingat dari salah satu disiplin ilmu. Kemudian coba membandingkannya dengan disiplin ilmu lainnya, dan prosentasenya memang jauh berbeda. Tak ingin saya meyakiti hati para Pengajar saya di, namun harus diakui, pada disiplin ilmu lainnya saya mewarnai KHS dengan deretan nilai A, sedangkan di salah satu disiplin ilmu, (mungkin)hanya 2, yang A. Ini tak sedang membicarakan bodoh dan pintar, atau membicarakan disiplin ilmu, melainkan terfokus pada betapa pentingnya "learning by doing" dan betapa penting bersahabatnya Guru.
Disiplin ilmu yang saya dereti nilai A memang menawarkan Pengajar yang bersahabat serta silabus hingga realisasi di kelas dan lapangan yang "learning by doing". Itulah yang membuat semangat eksplorasi membara dalam pencarian. Sedangkan disisi lain, pada suatu disiplin ilmu terasa suatu tekanan, dijejali, sebatas diminta menghafal, kesan angker, bahkan pemaksaan "percaya saja" terhadap suatu pencarian.
Hal esensial yang penting dari seorang pengajar adalah terjalinnya suatu hubungan dua arah. Seorang pengajar bisa memiliki 1000% ilmu, namun bisa jadi tak bisa maksimal diserap 1000% persen oleh yang diajarnya. Yang lainnya, seorang seorang Pengajar yang hanya memiliki 100%, namun memiliki hati untuk menjalin suatu hubungan dengan yang diajarnya, memiliki potensi untuk timbulnya semangat eksplorasi untuk disiplin ilmu yang diajarkannya. Oleh karenannya, kemampuan menjejali, memaksa, hingga merasa lebih menguasai memang perlu dikikis. Karena nyatanya, siswa yang datang seringkali datang dengan pengetahuan yang luar biasa. Ada 3 hal yang membuat siswa malas bertanya, yaitu: 1.Merasa sudah paham; 2. Merasa tak paham sama sekali akan yang diajarkan; 3. merasa dieksekusi, dijejali, diindoktrinasi dan sejenisnya.
Ilmu membutuhkan guru, dan guru membutuhkan hati seorang ayah. Layaknya seorang ayah yang penuh kasih dalam membimbing anaknya, maka penting bagi guru memiliki hati seorang ayah, demi terciptanya suatu hubungan. Iulah sebabnya, saya lebih menganggap guru sebagai suatu panggilan, dibandingkan sebatas profesi.
Bersahabatlah, karena google yang hanya sebuah mesin tak bisa sebaik Anda yang dikarunia. hati. Sebagai seorang guru, mungkin Anda berkata: "Saya bersahabat kok". Dan saya bertanya: "berapa banyak murid yang mau menghampiri Anda untuk bertanya soal mata kuliah yang Anda ajarkan, baik di dalam maupun diluar kelas? Maaf, saya tidak sedang berbicara mengenai sebatas berapa murid yang dekat dengan Pengajar, karena mereka bisa saja dekat, namun seringkali lebih kepada "udang dibalik batu".
Semoga google tak lebih nyaman untuk memenuhi pencarian seseorang, karena kita perlu menciptakan generasi yang memiliki hati, bukan generasi mesin.

Label:

 
posted by richardâ„¢ at 18:40 | Permalink


3 Comments:


At 13 Maret, 2008 21:31, Blogger Joe

Di lantai 3 gedung Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, ada sebuah karya mahasiswa yang menggambarkan teori salah seorang tokoh besar Psikologi, E.R. Guthrie yakni Law of Effect. Isinya menggambarkan suatu realita di dunia pendidikan, yang menunjukkan hubungan yang erat antara hubungan batin yang ideal dengan dosen (mencakup menyukai karakter, cara mengajar, maupun kedekatan) yang berpengaruh terhadap prestasi belajar. Implikasinya, memang relationship (terlepas dari motivasi yang melenceng atau tidak) sangat penting dalam perkembangan intelektual anak didik.

Namun demikian, banyak guru, namun hanya beberapa yang memang memiliki hati bapa. Mungkin, mereka pikir lebih terlihat elegan saat menyampaikan banyak teori yang disusul banyak pertanyaan dari murid yang bisa di jawab (cerminan pinternya guru, kreatifnya murid atau justru kegagalan menyampaikan informasi ya?). Apapun itu, tampaknya orang - orang Psikologi mayoring pendidikan harus menyadari hal ini. Tidak melulu gonta - ganti kurikulum pendidikan bagi institusi tanpa 'mencuci' elemen - elemennya. Dunia..dunia..

 

At 13 Maret, 2008 22:35, Anonymous richard

Yang menulis comment di atas saya "bom waktu" buat UNAIR. Ha ha ha... dosen UNAIR, fuck eh fak.Psikologi yang mengajar tak sesuai silabus harap hati-hati aja...
Semoga spiritual, fisik, mental dan sosialnya bertumbuh seimbang ya Joe, supaya mainin ROCK-nya kaya DEWA, nggak kampungan kayak The Rock. j/k
Kalau ketemu Piyu tolong salam. Bilang sama Piyu, kalau bosan dengan PADI, buat band sama gue aja. Namanya BERAS BULOG TAPI NGGAK BAU, disingkat "BUTA BAU".

 

At 31 Maret, 2008 18:15, Blogger Joe

Namun demikian, tidak banyak yang tahu tentang hati bapa, tidak banyak yang tahu juga kalo ternyata cara mendapatkannya menuntut kita untuk jadi penemu, tidak hanya sekedar terima jadi.

Dari apa yang saya rasa dan alami (meski saya belum jadi bapak), hati bapa tidak dapat diajarkan, tidak dapat diwariskan apalagi diperjualbelikan. Tetapi, perlu untuk mencapai tahap kesadaran interpersonal mengenai hal ini yang diperoleh melalui pengalaman dan proses belajar. Hati bapa..mahal, langka namun amat tak ternilai.

 
Earn money with Scour!
/ricat+astok/