PEMENANG! MENANG?
Senin
Dengan memutarbalikkan fakta, Anda dapat menang. Dengan menghalalkan segala cara, Anda dapat menang. Dengan membunuh, Anda dapat menang. Dan dengan cengangas-cengenges layaknya orang menang, Anda dapat menang walau sebenarnya menyedihkan.
Ekspresikan semua, hingga hasrat hedonistik Anda terpuaskan, demi menang. Pertanyaannya adalah, apakah selalu menang membuat Anda menjadi pemenang?
Tak ada manusia yang tak pernah gagal. Demikian halnya dengan pemenang, yang tak luput dari gagal. Namun gagal tak identik dengan keterpurukan, jatuh, dan sejenisnya yang menunjukkan Anda ada di posisi "titik nol". Sadarkah, nyatanya memaksakan diri untuk selalu menang pun dapat dikategorikan sebagai gagal? Mari mencermati kisah si Abakadabra.
Suatu kali, si Abakadabra merasa sakit hati, jengkel, dendam, terluka, tertolak, karena kekasih dan semua orang di belakang kekasihnya menolak cintanya. Mulai saat itu, si Abakadabra mulai mempersolek dirinya demi menang, dimana dirinya ingin membuktikan ia tak jelek. Tak sampai disitu, si Abakadabra pun mulai memancangkan pilar-pilar kerajaannya demi menang, dimana dirinya ingin membuktikan ia tak melarat. Bahkan si Abakadabra pun semakin tak merasa penting dengan mimpi, misi, visi, dan tujuan hidupnya. Semuanya sebenarnya dipahaminya, namun dikuburkannya, demi menang.
Rasa sakit, dukacita dan tertolak dalam dirinya ditutupinya dengan sejuta keceriaan, kegagahan, kekuasaan dan semua yang dapat mengekspresikan menang. Apapun yang tak membuatnya menang tak digubrisnya, apalagi didukukungnya.
Disanalah 1001 alasan kerapkali diluncurkannya, saat dirinya tak mendapatkan status menang. Lain halnya jika menjadi menang digenggamnya, apapun dan berapapun harganya, maka si Abakadabra siap melakukannya.
Dari sekian jauh penyimpangan yang diambilnya, si Abakadabra tak pernah bisa menyadarinya. Jelaslah penyebabnya, karena semua di sekelilingnya adalah yang hanya mau menyanjungnya sebagai si menang yang tak terkalahkan. Kepentingan yang berputar di sekelilingnya terasa mandul untuk menyatakan yang benar.
Akhirnya terciptalah falsafah hidup, menang itu segalanya. Tak peduli walau tak benar.
Menang, menang dan menang! Sampai kapan? Bukankah semua penyimpangan yang terlalu jauh ini hanya bersumber pada penolakan kekasih dan orang-orang di belakang kekasihnya? Kalau saja si Abakadabra mau sedikit belajar, bahwa penolakan itu terjadi bukan karena si Abakadabra kurang menang, namun kurang dewasa karena tak mau mengalah. Layaknya anak ingusan. Benarkah demikian dengan si Abakadabra? Bukankah sikap demi sikap si Abakadabra membuktikannya?
Satu hal yang perlu diketahui oleh si Abakadabra adalah, bahwa menjadi pemenang tak harus selalu menang. Mungkin itu sebabnya pepatah itu mengatakan: "Mengalah untuk menang".
Mari berkontemplasi dan bertanya: "sayakah si Abakadabra itu"? Jika berdikari dan bersedia diproses sering membawa Anda pada berbagai pengalaman kalah, berbahagialah. Karena pemenang tak harus selalu menang. Kegagalan orang-orang yang berdikari dan mau diproses itu jauh lebih potensial untuk menjadi pemenang, dibandingkan terus cengangas-cengenges ala si Abakadabra, yang nyatanya hanya terus menerus menetek dari susu ibu dan ayahnya. memang ayah menyusui ya? Kejam sekali bukan?
Luar biasa sekali memang, karena berbagai gejolak yang terjadi di dunia ini, nyatanya bisa saja berasal dari kelihaian si Abakadabra memainkan perannya yang rapih demi untuk pembuktian tak terkalahkan.
Marahkah Anda membaca ini? Berencana men-deface, menyerang DDOS web sederhana ini, atau merencanakan membunuh saya karena merasa kalah? Belajarlah untuk kalah, dan itu dimulai dengan berdiri diatas kaki sendiri, untuk membuktikan kedewasaan. Sudah dewasa kok masih menetek? Mungkin itu yang menyebabkan penolakan kekasihmu itu. Ayo berdikari!
Tak ada manusia yang tak pernah gagal. Demikian halnya dengan pemenang, yang tak luput dari gagal. Namun gagal tak identik dengan keterpurukan, jatuh, dan sejenisnya yang menunjukkan Anda ada di posisi "titik nol". Sadarkah, nyatanya memaksakan diri untuk selalu menang pun dapat dikategorikan sebagai gagal? Mari mencermati kisah si Abakadabra.
Suatu kali, si Abakadabra merasa sakit hati, jengkel, dendam, terluka, tertolak, karena kekasih dan semua orang di belakang kekasihnya menolak cintanya. Mulai saat itu, si Abakadabra mulai mempersolek dirinya demi menang, dimana dirinya ingin membuktikan ia tak jelek. Tak sampai disitu, si Abakadabra pun mulai memancangkan pilar-pilar kerajaannya demi menang, dimana dirinya ingin membuktikan ia tak melarat. Bahkan si Abakadabra pun semakin tak merasa penting dengan mimpi, misi, visi, dan tujuan hidupnya. Semuanya sebenarnya dipahaminya, namun dikuburkannya, demi menang.
Rasa sakit, dukacita dan tertolak dalam dirinya ditutupinya dengan sejuta keceriaan, kegagahan, kekuasaan dan semua yang dapat mengekspresikan menang. Apapun yang tak membuatnya menang tak digubrisnya, apalagi didukukungnya.
Disanalah 1001 alasan kerapkali diluncurkannya, saat dirinya tak mendapatkan status menang. Lain halnya jika menjadi menang digenggamnya, apapun dan berapapun harganya, maka si Abakadabra siap melakukannya.
Dari sekian jauh penyimpangan yang diambilnya, si Abakadabra tak pernah bisa menyadarinya. Jelaslah penyebabnya, karena semua di sekelilingnya adalah yang hanya mau menyanjungnya sebagai si menang yang tak terkalahkan. Kepentingan yang berputar di sekelilingnya terasa mandul untuk menyatakan yang benar.
Akhirnya terciptalah falsafah hidup, menang itu segalanya. Tak peduli walau tak benar.
Menang, menang dan menang! Sampai kapan? Bukankah semua penyimpangan yang terlalu jauh ini hanya bersumber pada penolakan kekasih dan orang-orang di belakang kekasihnya? Kalau saja si Abakadabra mau sedikit belajar, bahwa penolakan itu terjadi bukan karena si Abakadabra kurang menang, namun kurang dewasa karena tak mau mengalah. Layaknya anak ingusan. Benarkah demikian dengan si Abakadabra? Bukankah sikap demi sikap si Abakadabra membuktikannya?
Satu hal yang perlu diketahui oleh si Abakadabra adalah, bahwa menjadi pemenang tak harus selalu menang. Mungkin itu sebabnya pepatah itu mengatakan: "Mengalah untuk menang".
Mari berkontemplasi dan bertanya: "sayakah si Abakadabra itu"? Jika berdikari dan bersedia diproses sering membawa Anda pada berbagai pengalaman kalah, berbahagialah. Karena pemenang tak harus selalu menang. Kegagalan orang-orang yang berdikari dan mau diproses itu jauh lebih potensial untuk menjadi pemenang, dibandingkan terus cengangas-cengenges ala si Abakadabra, yang nyatanya hanya terus menerus menetek dari susu ibu dan ayahnya. memang ayah menyusui ya? Kejam sekali bukan?
Luar biasa sekali memang, karena berbagai gejolak yang terjadi di dunia ini, nyatanya bisa saja berasal dari kelihaian si Abakadabra memainkan perannya yang rapih demi untuk pembuktian tak terkalahkan.
Marahkah Anda membaca ini? Berencana men-deface, menyerang DDOS web sederhana ini, atau merencanakan membunuh saya karena merasa kalah? Belajarlah untuk kalah, dan itu dimulai dengan berdiri diatas kaki sendiri, untuk membuktikan kedewasaan. Sudah dewasa kok masih menetek? Mungkin itu yang menyebabkan penolakan kekasihmu itu. Ayo berdikari!
posted by richardâ„¢ at 15:08 | Permalink
3 Comments:
At 07 April, 2008 20:10, richard
thanks to: Maurizo & KDS. Thanks too untuk yg sudah chat sama diriku "about this":) nice inform dude;)
Sekarang lagi ada yang all out ya? He he he ... kalian kudu teng kyu lah sama gw :) btw, semoga all out-nya beliau nggak pake uang negara yang lagi dipinjam untuk modal kerja ya...*sambil browsing daftar nasabah nakal* ;) KPK lagi galak soalnya. Jadi tolong sampaikan, jangan hambur-hamburkan modal kerja, kalau belum dapat tender. Nggak BEP nanti. *gaya gaya ala pengusaha memang* wkwkwkwkwk



Widih,,, tetep serem bahasa2 pemikiran'a yah...
tapi kok nyinggun2 soal netek??
jadi inget BB17 yg baru ditutup di Kaskus... ^_^
jadi sekarang bisa ngaskus dgn aman karena godaan udah gak ada...
Maju terus dan gapai kemenanganmu!!!