POLITISI NEGARAWAN
Selasa
H.M Kuitert mengatakan: "everything is politic, but politic isn't everything". Berbicara mengenai politik, kaitannya erat dengan kepentingan. Dan berbicara kepentingan, manusia mana di dunia ini yang tak memiliki kepentingan? Akui sajalah, entah kepentingan buruk, kepentingan sebatas baik, atau kepentingan benar memang kerapkali beracara dalam derap langkah kita. Seperti band Seriues meneriakkan: "rocker juga manusia...", kepentingan pun bukan hal yang tabu bagi manusia.
Namun, ada yang menarik dari pernyataan J.F Clarke yang mengatakan: "a Politician Thinks About The Next Election, A Statesman Thinks About The Next Generation". Mustahil rasanya, jika seseorang yang dianggap sebagai "Statesman", namun mengatakan tak memiliki kepentingan dalam derap langkahnya. Inplisit, "Statesman" yang tak memiliki konsep dong? Kok bisa?
Jika Kuitert mengatakan "politic is not everything", dan Clarke mengatakan: "A Statesman Thinks About The Next Generation", maka saya sepakat dengan apa yang Faisal Basri tuliskan untuk saya (teng kyu Bang!): "Janji politisi memang sebatas galah, komitmen negarawan sepanjang jalan, kita butuh banyak politisi-negarawan".
Mengakui adanya kepentingan dalam derap langkah membantu kontemplasi diri untuk meminimalisir kepentingan buruk sampai kepentingan sebatas baik, guna memaksimalkan kepentingan yang benar.
Itulah sebabnya kita perlu mencermati, lalu ikut mengalir dalam konsep sampai aksi yang dibawa oleh seorang politisi menjelang 2009 ini. Harapannya, Politisi bersangkutan mulai menajamkan konsep indahnya sebelum berkuasa, dan secara tak langsung, kita sebagai rakyat biasa akan menyatakan selamat tinggal pada Politisi yang hanya hobi membagikan kaos butut, sembako murahan, jogat-joget masal, dan bualan-bualan dalam sebuah kampanye.
Semoga dengan ini, 2009 nanti akan menghadirkan calon pemimpin, bukan sebatas penguasa. Dan sebagai golongan kasta tertinggi dalam negara ini, kita pun sebagai rakyat seharusnya tak bermental pengemis. Kepada calon Pemimpin yang memiliki konsep, seharusnya kita mengatakan apa yang bisa saya berikan, bukan apa yang bisa saya ambil. Tahu sebabnya? Umumnya, "Statesman" kurang punya banyak dana, namun bersama "Statesman" kita akan berpeluang besar dilibatkan (baca: berpihak pada rakyat) untuk menjadikan Indonesia, bukan sebatas menjadi ular kadut atau naga, namun menjadi "Gatot Kaca" yang tangguh di mata Asia sampai dunia. Sumber daya alam, letak geografis dan sumber daya manusianya mendukung kok. Semoga simbiosis mutualisme terjadi dan menular layaknya virus mematikan, guna meciptakan "win-win solution" dalam situasi dan kondisi kita saat ini, untuk Indonesia yang lebih baik
Namun, ada yang menarik dari pernyataan J.F Clarke yang mengatakan: "a Politician Thinks About The Next Election, A Statesman Thinks About The Next Generation". Mustahil rasanya, jika seseorang yang dianggap sebagai "Statesman", namun mengatakan tak memiliki kepentingan dalam derap langkahnya. Inplisit, "Statesman" yang tak memiliki konsep dong? Kok bisa?
Jika Kuitert mengatakan "politic is not everything", dan Clarke mengatakan: "A Statesman Thinks About The Next Generation", maka saya sepakat dengan apa yang Faisal Basri tuliskan untuk saya (teng kyu Bang!): "Janji politisi memang sebatas galah, komitmen negarawan sepanjang jalan, kita butuh banyak politisi-negarawan".
Mengakui adanya kepentingan dalam derap langkah membantu kontemplasi diri untuk meminimalisir kepentingan buruk sampai kepentingan sebatas baik, guna memaksimalkan kepentingan yang benar.
Itulah sebabnya kita perlu mencermati, lalu ikut mengalir dalam konsep sampai aksi yang dibawa oleh seorang politisi menjelang 2009 ini. Harapannya, Politisi bersangkutan mulai menajamkan konsep indahnya sebelum berkuasa, dan secara tak langsung, kita sebagai rakyat biasa akan menyatakan selamat tinggal pada Politisi yang hanya hobi membagikan kaos butut, sembako murahan, jogat-joget masal, dan bualan-bualan dalam sebuah kampanye.
Semoga dengan ini, 2009 nanti akan menghadirkan calon pemimpin, bukan sebatas penguasa. Dan sebagai golongan kasta tertinggi dalam negara ini, kita pun sebagai rakyat seharusnya tak bermental pengemis. Kepada calon Pemimpin yang memiliki konsep, seharusnya kita mengatakan apa yang bisa saya berikan, bukan apa yang bisa saya ambil. Tahu sebabnya? Umumnya, "Statesman" kurang punya banyak dana, namun bersama "Statesman" kita akan berpeluang besar dilibatkan (baca: berpihak pada rakyat) untuk menjadikan Indonesia, bukan sebatas menjadi ular kadut atau naga, namun menjadi "Gatot Kaca" yang tangguh di mata Asia sampai dunia. Sumber daya alam, letak geografis dan sumber daya manusianya mendukung kok. Semoga simbiosis mutualisme terjadi dan menular layaknya virus mematikan, guna meciptakan "win-win solution" dalam situasi dan kondisi kita saat ini, untuk Indonesia yang lebih baik
Label: pollitisi negarawan
