POLITK SINGA
Selasa
- "Telah kujelaskan kepadamu tiga perubahan jiwa: Dari roh menjadi unta, Dari Unta menjadi singa, dan dari singa akhirnya menjadi anak". (Zarathustra, Nietzche)
Unta yang memikul beban nampak menolong, namun di padang pasir yang sunyi berubah menjadi singa, raja padang pasir yang menjadi lihai menghadapi tantangan kecil hingga besar. Dan itu membuat singa semakin pakar bermanuver, kejam, bengis, dan apapun demi kekuasaannya. Seperti Nietzche katakan: "mencari hambatan untuk diatasi, sebagai keinginan untuk berkuasa". Maka, memutar balikan fakta, tidak konsisten, jilat sana sini, hantam dan semua kekejian bahkan dibungkus hal-hal malaikat sekalipun bukanlah masalah besar bagi singa, karena orientasinya adalah kekuasaan.
Kaum beragama kebanyakan alergi terhadap Nietzche yang biang ateis ini. Entah karena status ateisnya Nietzche, atau karena tulisan Nietzche menghantam titik nyaman mereka? Entahlah, namun diri ini jadi teringat beberapa unta yang diimport dari dusun-dusun tetangga megapolitan lalu ditampung oleh seorang pemimpin dengan harapan untuk menolong. Namun di padang pasir, satu persatu unta berubah menjadi singa yang buas, walau embel-embel yang dipakainya selalu bernafaskan kebenaran berbau tuhan. Entah kebenaran berbau tuhan yang mana yang dimaksudkannya?
Setidaknya diri ini bisa berbangga, karena saat menjadi unta, dan merasa tak sejalan dengan penunggang, maka diri ini berani melengserkan diri dari si penunggang, daripada terus sebagai unta seperti kebanyakan unta, namun akhirnya berubah menjadi singa buas. Kesetiaan ala "udang di balik batu" yang gemar aji mumpung demi kekuasaan memang sering dipraktekkan kebanyakan singa. Mundur dong, atau bangun kerajaan baru jika memang ingin berkuasa!
Sekejab ada ditengah-tengah singa memang mengejutkan, menggelikan sekaligus menjijikkan. Oleh karenanya, menghadapi singa-singa memang tak membutuhkan nilai-nilai, tetapi lebih tepatnya mempermainkannya. Bukan untuk membalas dendam, namun memang itulah cara berkomunikasi dengan kaum singa.
Suka tidak suka, dalam mencapai tujuan kita memang kerapkali berhadapan dengan politik ala singa. Tidak perlu menjadi singa untuk merealisasikan tujuan, tapi cukup mempermainkannya. Karena ada saatnya singa menjadi singa ompong, itulah yang Nietzche maksudkan dengan "menjadi anak". Ya, politik singa memang bukan segala-galanya, walau berbalutkan kebenaran dan tuhan yang palsu sekalipun. idedicatedthisstorytomybelovedsryangdipusingkansingayangtaktaudiri.
Label: Nietzche, Zarathustra
