SURRENDER ALLvsINSTAN
Selasa
Apakah Anda sedang gundah gulana, dan rasanya seperti tersambar petirnya gundala? Apa yang bisa melegakan hati Anda saat ini? Saat nongkrong dan ngobrol ngalor-ngidul dengan beberapa sahabat, Saya pun mengajukan pertanyaan yang sama, dan diantaranya mengatakan: "gue mah akan tenang, kalo sekarang megang uang 40 M"; "saya lebih memilih si "x", adik saya mati saja, karena kecanduannya akan narkoba membuat kami sekeluarga pusing"; "Aku sumpahin si "b" mampus ketabrak kereta, habisnya sebel banget, kok aku diduain"? Dan masih beberapa lagi komentar yang mengungkapkan isi hati mereka yang mengharapkan instannya solusi.
Benarkah 40M, matinya si "x", dan tertabraknya si "b" tersebut merupakan solusi paling manjur atas gejolak yang sedang berlangsung dalam hidup mereka?
Beberapa minggu ini, saya kembali diingingatkan akan kisah hidup seorang raja yang luar biasa, bernama: King of David. Tak sedikit tulisan, mulai catatan sejarah dari disiplin ilmu sekuler, sampai kitab-kitab kepercayaan, yang mencatat kisah manusia bernama David alias Daud ini. Jika ditelusuri, ternyata Daud hanyalah seorang gembala domba, tukang main alat musik kecapi, tukang antar makanan untuk kakak-kakaknya di ladang, dan tubuhnya tak se-atletis Ade Rai. Kesimpulannya, Daud itu orang yang biasa-biasa saja. Lalu, kenapa orang biasa-biasa itu bisa menjadi begitu luar biasa, hingga dicatat sebagai seorang raja yang termasyur?
Dalam Mazmur/Zabur yang saya baca, dituliskan oleh Daud: "Tuhan adalah gembalaku, ta'kan kekurangan aku..." Setelah mengamati semua tulisannya dalam bagian itu, pernyataan tersebut mengacu pada suatu keyakinan, bahwa ketika Tuhan ditempatkan sebagai Pemimpin hidupnya, maka Daud ada dalam titik yang tak kekurangan apapun. Apakah Daud tak pernah mengalami tantangan dalam hidupnya? Saya pikir tak demikian, karena di bagian yang lain dituliskan: "gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku". Anda paham kan fungsi gada dan tongkat? Gada dan tongkat tidak dipakai oleh para gembala domba untuk membelai atau mengelus domba, namun dipakai untuk menyabet sampai memukul domba, dengan tujuan, domba tak menyimpang ke kiri atau ke kanan, yang bisa membuatnya masuk ke dalam jurang. Sikap Gembala versi Daud yang memainkan tongkat dan gada memang jauh berbeda dengan sikap diktator yang memainkan gada dan tongkat, tetapi demi memuaskan hasrat sakit jiwanya.
Jadi dapat dipastikan, manusia bernama Daud ini pun mengalami hal-hal yang tak mengenakkan dalam hidupnya, namun itulah yang menghiburnya? Dalam pimpinan-Nya yang penuh cinta dan memiliki tujuan yang benar (bukan intrik, manuver, atau kepentingan udang di balik batu), akhirnya Daud mampu menuliskan: "... and i will dwell in the house of the Lord forever". Saya yakin, yang dimaksudkan Daud dengan "dwell in the house of the Lord" itu bukanlah mengacu pada sebatas tinggal selama-lamanya di mesjid, gereja, vihara, kuil atau gedung-gedung peribadatan apapun, namun pernyataan tersebut lebih mengarah pada kerinduannya untuk selalu dekat dengan Tuhan yang memimpinnya. Mungkin itu bedanya, antar orang ber-Tuhan, dengan sebatas beragama.
Sampai disini jelaslah, ditengah zaman yang semakin hedonistik, dimana produk-produk yang instan semakin digemari untuk memuaskan kesenangan, nampaknya saat ada dalam suatu tantangan kita perlu membuka diri untuk masuk dalam suatu proses. Dalam proses kita diajar, dan mungkin dihajar. Said: "God, i surrender all".

Label:

 
posted by richardâ„¢ at 18:27 | Permalink


0 Comments:


Earn money with Scour!
/ricat+astok/