BAIKvsBENAR
Senin
Masalah terbesar dunia tidak terletak pada minimnya orang baik, melainkan minimnya orang benar. Karena yang baik belum tentu benar. Contohnya: kita bisa dianggap baik dengan aktif dalam kegiatan kerohanian. Kita bisa dianggap baik dengan tidak gonta-ganti pacar. Kita bisa dianggap baik dengan jadi orang rumahan yang jarang keluyuran. Kita bisa dianggap baik dengan bertutur kata yang nampak ramah karena kerapkali disertai cengangas-cengenges. Kita bisa dianggap baik dengan jalinan pertemanan yang itu-itu saja. dan kita bisa dianggap baik dengan apapun yang baik. Sah-sah saja, itu baik adanya. Namun untuk mengatakannya benar, hanya bisa dibuktikan dengan buahnya.
Bisa saja, aktif dalam kegiatan kerohanian bukan karena sedang mencari Tuhan, tapi mencari tender. Bisa saja, tutur kata yang ramah yang kerapkali diiringi cengangas-cengenges karena tak ada isi dikepalanya untuk bicara sesuatu yang serius (biasanya tipikal ini hebat mengkritik orang yg berbicara didepan. Padahal, kalau saja dirinya mau berbicara di depan, maka selain cetek, pasti juga terkesan blepetan/o'on/dungu). Bisa saja, tidak gonta-ganti pacar karena mencintai sesama jenis. Bisa saja, pertemanan dengan orang-orang yang itu-itu saja karena tak memiliki kemampuan bersosialisasi (semua manusia diluar zonanya dianggap zero. bnd. pecandu; anggota aliran sesat; ekstrimis dan sejenisnya). Bisa saja, menjadi anak rumahan karena takut tak bisa dimengerti seperti saat di rumah sebagai "anak mami". Yang dikatakan bisa saja, berarti tak mutlak toh. Kalau tak merasa, ya jangan kebakaran jenggot seperti banci dong.
Tulisan inipun bukan menyarankan untuk tak aktif dalam kegiatan kerohanian, menyarankan menjadi keluyuran freak, menyarankan anti ramah, atau menyarankan menjadi "ABC" (Aligator Buaya Crocodille) yang hobi gonta-ganti pacar dan sebagainya. Tapi, ini lebih kepada ajakan berkontemplasi, agar saya dan siapa saja yang membaca ini memiliki perspektif, bahwa menjadi benar jauh lebih penting, daripada sebatas baik.
Mari memulainya dengan bertanya, "adakah buah dari berbagai kebaikan yang berlangsung selama ini? Atau sedang merasa berputar-putar, layaknya mengitari tol Priok, Cawang, Slipi, lalu kembali ke Priok lagi? Dimana semuanya mulus, dalam nikmatnya asoy geboy dentuman full SPL, suspensi yang yahud dan AC yang dingin, namun nyatanya hanyalah berputar-putar disitu-situ saja? Semoga tak lelah ya.
Halalkanlah segala cara, asalkan tak haram dihadapan Tuhan. Daripada berlagak baik, namun nyatanya haram. Karena itu layaknya kuburan yang berlabur putih, namun nyatanya hanyalah seonggok bangke busuk.

Label: , ,

 
posted by richard™ at 19:04 | Permalink


4 Comments:


At 26 Mei, 2008 23:55, Blogger Jonny

Danae C, penulis buku rohani yang berjudul "What I've Learned Lately" bilang..

Namun, terkadang apa yang benar itu tidak selalu jelas..
Misal ada dua orang yang sama - sama yakin bahwa satu hal itu benar..
Padahal tidak ada suatu hal yang sama - sama benar. Hanya ada satu yang paling benar.

Berarti akan ada yang gugur jika yang lebih itu muncul.
Jadi yang benar itu yang seperti apa?

 

At 06 Juni, 2008 04:42, Anonymous richard

pan udah gua kata:

"Namun untuk mengatakannya benar, hanya bisa dibuktikan dengan buahnya".

Noh, lu liat aja diparagrap satu. Buju buneng dah lu tong, makanya gua setuju untuk nggak nonjolin (buseeet... nonjol) kerohanian semata, tapi lebih kepada mebuatnya balance(seimbang gitu ganti) dengan fisik, mental dan sosial. Supaya kagak ekstrim, kayak pakar-pakar agama entuh tuh. Sisi lainnya, rohani kok dionjolin untuk dibisnisin? pisangggg molennnn kaleee..... sekian dan terima kasih

 

At 25 Juli, 2008 10:01, Blogger balidreamhome

Berusaha untuk menjadi orang benar dan baik adalah sebuah perjalanan tapa jeda, dan selalau ada tantangan :-)
Tetapi menikmati perjalanan untuk menjadi benar dan baik sebenarnya cukup baik dan benar :-)

Salam kenal bro!

 

At 27 Juli, 2008 03:20, Anonymous richard™

Waktu menetap di Bali, saya mengerti arti menikmati hidup, bahkan dalam nuansa perjalanan menjadi benar. Walau tantangannya tetap saja ada.

Faktanya saya tak lagi di Bali, dan harus berdamai dengan kenyataan, bahwa perjalanan menjadi benar seringkali tak lagi bisa dinikmati.

Fakta lainnya yang mengejutkan, banyak yang baik dan menikmati perjalanan, namun kagak bener (diatasnya tidak benar).

Perjalanan lepas perjalanan membawa saya pada suatu titik baru, bahwa menikmati hingga menjadi baik bukanlah jaminan untuk suatu perjalanan yang benar. karna yang benar, tak selalu diukur dengan menikmati dan baik-baik.

Namun jika mengatakannya "cukup baik dan benar", cicay lah saya sama bli balidreamhome....

karna cukup adalah titik aman dari tidak benar atau ekses benar alias ekstrim. Namun "cukup" juga bisa bermakna, belum tentu benar.

Jika demikian halnya, setiap kitalah yang tahu persisnya sesuatu yang benar, sebatas baik, cukup, atau kagak bener.

Semuanya memang berbicara tentang proses, dan ketika kita anti proses, disanalah menjadi benar kita kuburkan!

Konteks ini tak terlepas dari kegagalan. Dan realitanya, tidak ada manusia yang tidak pernah gagal. Akui saja dikala gagal, dan orientasikan pada problem solving untuk bertumbuh, dibandingkan berkubang pada masalah, layaknya kerbau yang sok sunset'tan ketika berkubang.

Dan untuk yang ini, saya suka pernyataan ELC yang mengatakan: "pemenang bukan seorang yang tak pernah gagal, karna pemenang adalah seorang yang tak pernah menyerah".

*yel-yel* hidup gagal tobat!

Setidaknya, itulah surat terbuka saya. Manusia yang berusaha terbuka untuk diproses, demi perjalanan hidup yang benar. Walau kadang saya susah membedakan, mana yang benar, atau sebatas baik. Disanalah saya diproses lagi... dan lagi....

thanks mas jon & bli balidreamhome!

 
Earn money with Scour!
/ricat+astok/